Ngopi Sore

Apakah Benar Pak SBY Semakin Lebay?

Celoteh-celoteh Pak SBY hari-hari belakangan ini mengingatkan pada ribut-ribut 13 tahun lalu. Polanya sangat mirip.

Apakah Benar Pak SBY Semakin Lebay?
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
KETUA Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono saat akan memberikan konferensi pers terkait tudingan oercakapan telepon dengan Ketua MUI Ma'ruf Amin di Wisma Proklamasi, Jakarta, Rabu (1/2/2017). Dalam keterangannya, SBY membenarkan percakapan dengan Ketua MUI Ma'ruf Amin, namun tidak ada kaitannya dengan kasus penistaan agama yang menjerat Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, dan meminta aparat penegak hukum mengusut kabar penyadapan pembicaraan telepon dirinya dengan Ketua MUI tersebut. 

DARI enam Presiden Republik Indonesia terdahulu, tiga di antaranya masih hidup dan sejauh ini hanya satu yang berjarak lebih dekat dengan sebutan negarawan. Yakni Baharuddin Jusuf (BJ) Habibie. Beliau presiden ketiga, yang naik di tengah huru-hara yang membuat presiden kedua, Soeharto, jatuh dari kursi kekuasaan.

Habibie memimpin dalam tempo yang sangat singkat. Hanya satu tahun lima bulan. Namun di masa yang pendek ini Habibie melakukan hal-hal yang dikenang orang sampai sekarang. Hal-hal yang positif. Paling utama, tentu saja, Habibie menyelamatkan negeri besar ini dari kehancuran akibat kemerosotan ekonomi.

Presiden terdahulu lain adalah Megawati Soekarnoputri dan rasa-rasanya memang tidak ada yang bisa dibanggakan dari dia. Mirip Pak Habibie, Ibu Mega yang awalnya menjabat wakil presiden naik di tengah huru-hara, menggantikan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang dimakzulkan oleh DPR RI.

Namun tak seperti Habibie yang mengambil banyak langkah brilian, meski beberapa di antaranya juga ada yang kontroversial seperti membuka referendum untuk kemerdekaan Timor Timur (kini Timor Leste), Megawati justru lebih dikenal dengan "sikap diamnya".

Apakah semacam diam yang berisi? Diam yang piawai? Semacam "silence is golden"? Sayangnya tidak. Diam Ibu Mega lebih kepada diam yang kosong dan serba menjengkelkan. Diam yang senyap. Mirip adegan yang mengalir dari film bisu.

Maka dibanding Ibu Mega, presiden berikutnya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) jelas memiliki potensi yang lebih besar untuk berkedudukan setara Pak Habibie. Sepuluh tahun beliau menjabat presiden. Walau tidak ada yang bisa dikata spektakuler, setidaknya, dalam sepuluh tahun itu Pak SBY telah meninggalkan jejak-jejak kerja. Baik yang sudah rampung, setengah rampung, maupun yang mangkrak.

Jejak yang mangkrak ini sedikit banyak memang memberi pengaruh terhadap potensi status kenegarawanan tadi. Terlebih-lebih di antaranya terselip pula isu kongkalikong dan dugaan korupsi. Akan tetapi, lantaran isu dan dugaan belum terbukti, untuk sementara bolehlah diabaikan.

Sayang sekali Pak SBY menyia-nyiakan kesempatannya. Pelan namun pasti potensinya tergerus. Ironis karena ketergerusan potensi ini sekadar disebabkan perkara yang remeh-temeh. Sekadar celoteh di media sosial. Celoteh yang bernada gerutu, gugat, sampai curhat.

SBY dan unek-uneknya yang disampaikan secara nyaris kontinu, makin ke sini makin melunturkan kharisma yang menjadi modal terbesarnya saat menjungkalkan Megawati di Pemilu 2004.

Sebaliknya, makin ke sini, orang jadi makin teringat, dan beberapa barangkali malah jadi makin paham dan membenarkan celetukan almarhum Taufiq Kiemas. Suami Ibu Megawati ini, yang menjabat Ketua MPR, menyebut SBY sebagai jenderal yang kekanak-kanakan.

Halaman
123
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help