Silaturahmi Tribun Medan

Muhammadiyah: Perbedaan Harus Diakui tapi Kemajemukan bagai Mozaik dalam Harmoni

"Hidup di dearah majemuk seperti Sumut perlu kita jaga. Kita berbeda-beda, itu harus diakui. Mari kita jadikan itu sebagai mozaik, mozaik yang harmoni

Muhammadiyah: Perbedaan Harus Diakui tapi Kemajemukan bagai Mozaik dalam Harmoni
Tribun-Medan.com/ Nanda Fahriza Batubara
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara sekaligus Ketua Majelis Hukum dan HAM Perwakilan Wilayah (PW) Muhammadiyah Sumut, Abdul Hakim Siagian saat menerima Pimpinan Perusahaan Tribun Medan dan Pemimpin Redaksi Tribun Medan di Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jalan Sisingamangaraja, Medan, Selasa (7/2) malam. (Tribun-Medan.com/ Nanda Fahriza Batubara) 

ORGANISASI keagamaan Muhammadiyah punya andil besar menjaga membangun, kemudian menjaga kerukunan dan keharmonisan hidup berbangsa-bernegara. Bahkan jauh sebelum Indonesia ada, organisasi masyarakat Islam ini telah terbentuk. Banyak tokoh Muhammadiyah berjuang dan diangkat sebagai pahlawan nasional, termasuk proklamator Bung Karno.

TRIBUN-MEDAN.com - Muhammadiyah adalah organisasi masyarakat Islam dengan tujuan untuk keagamaan, pendidikan dan sosial yang dibentuk November 1912.

Di daerah Sumatera Utara, Muhammadiyah hadir di 25 dari 33 kabupaten/kota. Di tengah masyarakatnya Sumut yang sangat majemuk, keberadaan organisasi Muhammadiyah pun sangat vital dalam menjaga kerukunan hidup antarumat beragama.

"Hidup di dearah majemuk seperti Sumut perlu kita jaga. Kita berbeda-beda, itu harus diakui. Mari kita jadikan itu sebagai mozaik, mozaik yang harmoni," ujar Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara sekaligus Ketua Majelis Hukum dan HAM Perwakilan Wilayah (PW) Muhammadiyah Sumut, Abdul Hakim Siagian, dalam silaturahmi dengan manajemen Tribun Medan/Triun-Medan.com di Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jalan Sisingamangaraja, Medan, Selasa (7/2/2017) malam.

Walaupun masyarakatnya sangat majemuk, Sumut terkenal sebagai provinsi yang memiliki toleransi tinggi atas keberagaman agama. Gejolak politik nasional, yang terjadi di Jakarta, diharap tidak merusak kondisi yang telah terbangun selama ini.

Untuk mendukung hal itu terwujud, peran media massa sangat dibutuhkan melalui pemberitaan yang positif tanpa tujuan membentuk opini tertentu yang tendensius atas suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) bagi pembaca.

"Kota Medan ini sudah beberapa kali dicoba dengan isu-isu SARA. Oleh karenanya media massa kami harap dapat menjaga hal ini dapat terus terjaga, jangan sampai memberitakan hal-hal yang justru berpihak," ujarHakim.

Tim Manajemen Tribun Medan/Tribun-Medan.com diterima Ketua Pimpinan Wilayah Muhhamdiyah Medan Hasyimsyah Nasution. Hadir pula sejumlah pimpinan wilayah lainnya yang bertepatan akan melaksanakan rapat pada malam kemarin.

Mereka adalah enam orang Wakil Ketua yakni Abdul Hakim Siagian, Ahmad Hosen Hutagalung, Nawir Yuslem, Mario Kasduri, Ihsan Rambe, dan Ibrahim Gultom. Kemudian Sekretaris PW Muhammadiyah Sumut Irwan Syahputra dan Wakil Sekretaris Mutholib. Adapun manajemen Tribun yang hadir antara lain Pemimpin Perusahaan Setiawan dan Pemimpin Redaksi Domuara D Ambarita.

Di tempat yang sama, Ketua PW Muhammadiyah Sumut Hasyimsyah Nasution, mengungkapkan Muhammadiyah merupakan satu di antara sejumlah organisasi Islam terbesar di negeri ini. Organisasi ini telah ada sejak negara ini belum dibentuk.

Halaman
123
Editor: Randy P.F Hutagaol
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved