Ngopi Sore

Idola Baru dari Arab

Perekonomian Arab Saudi sesungguhnya sedang tidak bagus-bagus amat. Pertumbuhan ekonomi mereka merosot tajam akibat penurunan harga minyak dunia.

Idola Baru dari Arab
AFP PHOTO/MANAN VATSYAYANA
RAJA Salman 

BEGITULAH, rencana investasi Pemerintah Arab Saudi di Indonesia membuat Raja Salman menjadi idola baru. Setidaknya sampai detik ini, di mesin-mesin pencari dan di media sosial, Raja Salman jauh mengalahkan idola sebelumnya, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Investasi Raja Salman yang belum jelas dan detail kecuali di bidang eksplorasi minyak ini, di lain sisi, juga ikut "menyelamatkan" Presiden Jokowi dari hantaman gelombang perisakan oleh sebagian rakyatnya sendiri, yang memang nyaris tak putus sejak dia memenangkan pemilu di tahun 2014.

Memang, perisakan-perisakan ini sebenarnya tidak sama sekali hilang. Masih tetap ada perisak- perisak yang konsisten melakukan "pekerjaannya". Perisak-perisak model ini, secara menakjubkan, selalu saja mampu menemukan bahan-bahan untuk merisak, dari sumber-sumber yang serba ajaib, entah isu atau peristiwa yang besar sampai yang paling kecil dan remeh, lalu meributinya di media sosial. Sungguh mereka adalah orang-orang yang sangat mengagumkan.

Secara umum puja-puji terhadap Raja Salman memang menggerus jumlah perisakan terhadap Jokowi. Setidaknya sampai bom panci meledak di Bandung, kemarin, para perisak hanya punya satu arah serang, yakni mengaitpautkan perihal rencana investasi Arab Saudi dengan investasi Pemerintah Cina.

Tepatnya membanding-bandingkan, dengan data dan fakta pembanding yang entah didapat dari mana. Arab, tentu saja, diposisikan lebih baik dari China. Dan Jokowi adalah pesakitannya. Dia ditempatkan sebagai presiden pro China, lantaran mengundang investor China -meski pada kenyataannya investor Arab juga masuk atas andilnya.

Namun sebenarnya di sinilah yang menarik. Sejak kabar kedatangan Raja Salman mengemuka, beredar banyak kabar di Indonesia. Kabar-kabar perihal rencana investasi, yang beberapa di antaranya sangat imajinatif bahkan untuk ukuran dongeng sekalipun.

Saya kutipkan satu di antaranya, yang beredar luas lewat pesan berantai aplikasi WhatsApp. Saya kutipkan sebagaimana aslinya (kecuali kesalahan tanda-tanda baca): "Raja akan membantu kita bereskan jalan Tol Tran Sumatera. Jika China komunis memberi utang 700 triliun maka Arab Saudi akan membantu 2.000 triliun. Terdiri 700 Triliun untuk kembalikan utang ke China dan 500 triliun membuat tambang baru di Papua. 500 triliun membereskan tol Sumatera dan sisanya 300 trilun untuk ekonomi umat di Indonesia. Hmm, luar biasa ya. Indonesia bebas. Utang kepada China LUNAS! PKI gigit jari."

Saya tidak tahu angka-angka ini diperoleh dari mana. Apakah benar Pemerintah China memberi utang Rp 700 triliun dan Pemerintah Arab Saudi akan memberikan (cuma-cuma) Rp 2.000 triliun, saya tidak tahu. Apakah benar uang yang bukan utang ini akan dialokasikan untuk pelunasan utang Indonesia ke China, lalu sisanya digunakan untuk membiayai pembangunan tol Trans Sumatera dan tambang baru di Papua, saya juga tidak tahu. Dan sudah barang tentu, saya sama sekali tidak tahu bagaimana cara orang yang menuliskan kabar ini menghubung-hubungkan perihal statistik yang disusunnya dengan komunisme dan PKI.

Pastinya, yang saya tahu, Raja Salman akan mewakili Pemerintah Arab Saudi menandatangani perjanjian investasi bidang perminyakan dengan Pemerintah Indonesia. Perusahaan minyak negara Kerajaan Arab Saudi, Saudi Aramco, akan membangun kilang di Cilacap dengan nilai investasi 6 miliar dolar Amerika Serikat. Saudi Aramco merupakan satu di antara produsen minyak mentah terbesar di dunia.

KILANG minyak Saudi Aramco
KILANG minyak Saudi Aramco (arabianbussines.com)

Jika terwujud, jumlah investasi Arab Saudi akan melonjak drastis. Medio Januari-Desember 2016, berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi Arab Saudi di Indonesia tercatat sebesar 900 ribu dolar Amerika Serikat atau setara Rp 11, 97 miliar (kurs 13.300) yang dialokasikan pada 44 proyek. Sangat kecil untuk ukuran negara sebesar dan semakmur Arab Saudi.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help