TribunMedan/

Renungan Kristen Hari Ini

Rabu Abu, Merefleksikan Diri, Bersatu untuk Bangkit

Rabu Abu ini boleh disebut masa untuk berefleksi diri. Kita sebagai orang beriman bertanya kepada diri sendiri: apa yang telah kita kerjakan?

Rabu Abu, Merefleksikan Diri, Bersatu untuk Bangkit
Kompas.com
Biarawan-biarawati menandai dahi seorang anak kecil pada hari Rabu Abu. 

TRIBUN-MEDAN.COM - Rabu Abu merupakan awal masa Pra-Paskah, periode pertobatan dan refleksi selama 40 hari yang memperingati pencobaan dan pergumulan yang dihadapi Yesus selama periode yang sama di padang pasir. Hal ini, umat kristen memasuki masa pantang dan puasa, suatu masa yang dikhususkan untuk mempersiapkan diri menyambut Perayaan Paskah, perayaan kebangkitan Yesus Kristus.

Dalam ibadat gereja-gereja di seluruh dunia, abu pembakaran daun palem dicampur dengan air atau minyak suci, lalu diberikan dalam bentuk tanda salib di dahi umat. Pemberian tanda salib dengan abu itu disertai kata-kata, "Bertobatlah, dan percaya pada Injil" (Markus 1:15) atau "Ingat bahwa kamu berasal dari debu, dan kamu akan kembali menjadi debu" (Kejadian 3:19).

Itulah merupakan tanda bahwa kita berasal dari abu dan nanti akan kembali menjadi abu kembali. Maka dengan penandaan itu kita diingatkan akan keberadaan dan keterbatasan kita sebagai ciptaan. Dalam penandaan itu, sekaligus kita menggabungkan diri dengan perjalanan Yesus menuju kematian, untuk akhirnya nanti boleh mengalami kebangkitan bersama dengan Dia.

Masa pantang dan puasa ini boleh disebut masa untuk berefleksi diri. Kita sebagai orang beriman bertanya kepada diri sendiri: apa yang telah kita kerjakan sebagai orang beriman dan apa yang masih perlu kita tingkatkan sebagai orang beriman? Maka masa ini juga merupakan saat yang tepat untuk melihat kegagalan, kejatuhan, dan juga kelemahan yang mengganggu perjalanan hidup kita yang lalu, sehingga kita dapat memperbaikinya agar dapat maju dengan lebih baik.

Karena itulah , masa pantang dan puasa ini boleh juga kita sebut masa pengubahan diri. Masa untuk lebih mengarahkan hidup kita ke kebaikan, ke tindakan yang penuh dengan kebajikan. Inilah masa untuk berdisiplin diri menuju kemajuan. Masa untuk lebih melihat kembali perjalanan hidup kita, sehingga dapat mengarahkannya ke hidup yang lebih baik. Inilah masa untuk berdamai dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan diri kita sendiri. Inilah masa untuk penyembuhan luka batin maupun kepahitan hidup. Oleh karena itu banyak orang menyebut masa ini sebagai masa untuk menempa diri.

Keinginan untuk mengarahkan diri ke kebaikan itu ditandai dengan pantang dan puasa. Pantang dan puasa adalah merupakan tanda bahwa kita mau mengekang diri dari keinginan yang tidak teratur. Sekaligus juga sebagai tanda bahwa kita sungguh berkuasa atas diri kita, dan bukan nafsu kita yang mengatur diri kita.

Masa pantang dan puasa ini disebut juga masa prapaskah, yang artinya masa untuk mempersiapkan Perayaan Paskah, perayaan kebangkitan Tuhan, perayaan kemenangan Tuhan atas maut. Pesta kemenangan, bahwa kita yang disatukan dengan Tuhan Yesus dalam kematianNva, juga akan menerima kebangkitan bersama Dia. Pesta yang menandakan kemenangan kebaikan atas kejahatan, kemenangan kuasa Tuhan atas kuasa setan. Maka untuk merayakan kemenangan itu kiranya cara yang sangat tepat adalah menyatukan hidup kita dengan Yesus sendiri. Itu berarti berani mati bersama Dia agar memperoleh hidup baru bersama Dia. Dan hidup bersama Dia berarti hidup dalam semangatNya, yaitu mengasihi Bapa dan sesama manusia.

Maka sekali lagi, masa ini merupakan masa yang sangat baik untuk melihat makna kegagalan, penderitaan, kesengsaraan dan perjuangan dalam hidup ini. Sering kita mengalami bahwa kegagalan, kesengsaraan dan penderitaan sebagai sesuatu yang hanya mengganggu hidup kita saja dan karena itu sering mematahkan semangat kita untuk melanjutkan hidup. Melihat apa yang terjadi pada diri Yesus, bahwa Ia pun mengalami penderitaan sebelum mengalami kebangkitan, mungkin kita dapat menimba juga makna baru dari seluruh penderitaan, kegagalan, pengalaman pahit dan kesengsaraan yang ada dalam hidup kita.

Dalam kerangka ikut menyatukan diri dengan penderitaan dan perjuangan Yesus, kita pun diajak oleh Gereja untuk juga mau satu rasa dengan Tuhan, yaitu dengan mati raga. Memang arti pertama dari mati raga adalah lebih bersifat rohani, yaitu mencoba membenahi hidup menurut jalan Tuhan. Namun arti yang kedua yang lebih bersifat jasmani adalah juga penting, yaitu agar kita berusaha mengurangi kenikmatan jasmani, yang kita nampakkan dalam bentuk pantang dan puasa.

Bacaan-bacaan hari ini semuanya mengajak kita lebih berserah diri kepada Tuhan. Dalam Injil, Yesus dengan sederhana menasehatkan kita agar kita bermotivasi murni dalam tindakan kita. Artinya, dalam melakukan suatu tindakan yang baik, tujuannya bukan untuk menyombongkan diri. Dalam berpantang dan berpuasa, dalam berdoa atau pun memberikan derma, kita melakukannya bukan supaya dilihat dan dipuji orang lain, melainkan karena kita ingin memuliakan Tuhan dan membantu sesama yang membutuhkan.

Marilah kita memasuki masa prapaskah ini dengan penuh penyerahan diri kepada Tuhan. Marilah kita saling mendukung dan saling mendoakan, sebab dengan demikian kita menyatakan bahwa memang bila kita sendirian sebenarnya tidak mampu berbuat apa-apa. Namun bersama-sama, dalam kebersamaan dan persatuan kita dalam diri Yesus Kristus, kita dapat mencapai kemenangan Paskah, kemenangan atas dosa dan maut.

p Leo Sipahutar
(facebook/Leo Sipahutar Ofmcap)

( Oleh: P Leo Sipahutar, OFMcap. Permenungan diambil dari Injil-"Yoel 2: 12-18; Matius 6: 1-6" )

Editor: Abdi Tumanggor
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help