Pedagang Pasar Tradisional yang Tumpah ke Badan Jalan Rawan Kemacetan

"Begitu kami masuk ke dalam, pendapatan kami menurun drastis. Dari pada kami merugi, ya mau nggak mau kami terpaksa berjualan di luar karena lebih.."

Pedagang Pasar Tradisional yang Tumpah ke Badan Jalan Rawan Kemacetan
Tribun Medan / Mustaqim
Kondisi Pasar Aksara yang berada di badan jalan membuat arus lalu lintas terganggu, Minggu (19/3/2017). (Tribun Medan / Mustaqim) 

Laporan Wartawan Tribun Medan/ Mustaqim Indra Jaya

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Para pedagang yang berjualan hingga meluber di badan jalan yang berada di sejumlah pasar tradisional, seperti di Pasar Sukaramai, Pasar Aksara dan Pasar Kampung Lalang membuat arus lalu lintas di tiga kawasan pasar itu tak jarang mengalami kemacetan.

Pantauan Tribun-medan.com, Minggu (19/3/2017) kendaraan yang melewati pasar-pasar itu harus berjalan pelan dan saling mengantre untuk dapat melintas tanpa bersenggolan dengan pejalan kaki maupun pembeli yang lalu lalang. Hal itu disebabkan mengecilnya ruas jalan akibat aktifitas jual beli.

Baca: Wanita Lebih Rentan Kecanduan Obat Pereda Nyeri

Selain itu, tumpukan sampah di Pasar Sukaramai juga menyebabkan kawasan itu terkesan kumuh dan menimbulkan lumpur. Sehingga pengendara sepeda motor yang melintas harus berhati-hati agar tidak terjatuh ketika melewati kawasan itu.

Seorang pedagang Sukaramai, Meri boru Simanjuntak (52) mengaku memilih berjualan di badan jalan karena mudah di akses pembeli. Dulu setelah Pasar Sukaramai selesai dibangun usai kebakaran dirinya bersama pedagang lainnya sempat berjualan di dalam gedung, namun dampaknya mereka kehilangan pelanggan.

"Begitu kami masuk ke dalam, pendapatan kami menurun drastis. Dari pada kami merugi, ya mau nggak mau kami terpaksa berjualan di luar karena lebih ramai di sini. Kami juga bayar biaya cukai ke PD Pasar, biaya keamanan dan sampah berjualan di sini," jelasnya.

Iis (32) pedagang elektronik di Pasar Aksara mengaku terpaksa membuka lapak dengan memasang tenda di badan jalan setelah gedung tempat mereka berjualan mengalami kebakaran hebat pada Juni 2016. Janji pemerintah untuk merelokasi mereka tak kunjung terealisasi.

"Jadi sebelum ada lokasi yang jelas ya kami di sini aja untuk menyambung hidup, tak ada pilihan dan dampaknya pasti macet. Sudah bolak balik wacana kami mau dipindahkan, di Martondi dan MMTC. Cuman sampai sekarang tak terealisasi," ungkapnya.

Ia mengaku bila Pemko Medan berniat memindahkan mereka, pedagang lebih memilih direlokasi ke kawasan MMTC Pancing dari pada lahan di lahan eks RS Martondi yang berada di Jalan Letda Sujono.

(cr8/tribun-medan.com)

Penulis: Mustaqim Indra Jaya
Editor: Sofyan Akbar
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved