Ngopi Sore

Inul di Pilkada Jakarta

Awalnya dari secarik foto. Inul melakukan swafoto dengan Ahok lalu menampilkan foto tersebut di halaman akun Instagram miliknya.

Inul di Pilkada Jakarta
TRIBUNNEWS/JEPRIMA
INUL Daratista 

APA yang dengan segera melesat di pikiran Anda tatkala ada yang menyebut nama Inul Daratista? Kalau saya dua: (1) penyanyi dangdut kelas dua; dan (2) rumah karaoke.

Inul, sebagaimana umumnya penyanyi-penyanyi dangdut, adalah nama alias. Nama panggung. Dia dilahirkan dengan nama Ainur Rokhimah, 21 Januari 1979, di Pasuruan, Jawa Timur. Dia memulai karier dari panggung kecil yang satu ke panggung kecil yang lain, tempat di mana dia pelan-pelan dikenal, antara lain lewat gaya jogetnya yang unik.

Saya memang bilang unik. Bukan seksi. Saya tidak pernah menganggap gaya joget Inul seksi. Terlebih-lebih panas dan memancing berahi. Waktu pertama kali melihatnya lewat satu rekaman VCD bajakan yang dibeli kawan saya dari Surabaya, saya ingat betul bagaimana saya tertawa sampai terbahak-bahak. Ini orang sedang ngapain?

Gaya berjoget Inul yang disebutnya sebagai Goyang Ngebor itu bagi saya memang lucu bukan kepalang. Inul mendoyongkan bokongnya yang berukuran agak melebihi batas, pelan-pelan, ke kiri maupun ke kanan, lantas dengan sekonyong-konyong memutar-mutarnya. Seiring itu, Inul menekuk dan mengangkat lututnya. Makin lama-makin cepat.

Gerakan liar seperti ini tentu saja membuat kontrolnya terhadap suara hilang sama sekali. Nada- nada lagu yang dilantunkannya berlarian entah ke mana. Nafasnya ngos-ngosan, sehingga membuat lagu apa pun yang dinyanyikannya jadi kehilangan nyawa. Mutu dangdut di tangan Inul merosot lagi ke comberan.

Raden Haji Oma (Rhoma) Irama, yang merasa telah berjasa mengangkat dangdut ke level yang lebih terhormat, marah besar. Dia menghantam Inul. Sebagai Raja Dangdut, dia bertitah, Inul dan gerbong berisi penyanyi dangdut dengan gaya serupa, tak boleh diberi tempat di panggung yang didirikannya dengan susah payah penuh perjuangan dan doa.

Sikap Rhoma Irama ternyata justru melesatkan Inul. Jadi titik balik bagi kariernya di panggung dangdut. Dari penyanyi dangdut kelas kampung naik derajat jadi penyanyi papan atas. Dia makin sering muncul di panggung-panggung dangdutan. Yakni panggung-panggung yang lebih gemerlap dan dipancarluaskan oleh stasiun-stasiun televisi. Inul masuk TV. Hal yang barangkali tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.

Setelah itu, dia merilis album. Dari album pertama Goyang Inul di tahun 2003 sampai Masa Lalu di tahun 2014, total ada tujuh album. Inul merilis album The Best, kumpulan lagu terbaik di tahun 2015, dan sejak itu tidak ada album baru. Inul lebih sering beredar dari acara pencarian bakat yang satu ke acara pencarian bakal yang lain, sebagai juri. Juga mengurus rumah karaoke Inul Vizta, baik yang dimilikinya langsung maupun yang membeli franchise.

Pendek kata, Inul Daratista sekarang adalah bintang. Dia selebritas, bukan lagi pedangdut kelas kampung yang lugu. Dia tidak lagi memakai kostum panggungnya yang lebih mirip baju senam itu. Di atas panggung penampilannya sangat glamour dengan gaun-gaun rancangan para desainer papan atas negeri ini. Wajahnya halus mulus lantaran perawatan ekstra teliti dan (tentunya) ekstra mahal, dengan potongan-potongan rambut serba aduhai yang selalu mengikuti tren mutakhir pula.

Namun sebatas itu. Inul boleh jadi bintang dan selebritas, akan tetapi sebagai pedangdut dia tetap kelas dua. Dia sama sekali belum naik kelas. Dia masih jauh untuk disejajarkan dengan pedangdut-pedangdut legendaris seperti Ellya Khadam, Djuhana Satar, Ida Laila, atau Elvy Sukaesih. Dia bahkan belum mendekati level Rita Sugiarto, Iis Dahlia, bahkan Erie Suzan. Inul dan lagu-lagunya yang serenyah kerupuk, hanyalah satu di antara keriuhan yang menjengkelkan dari dangdut masa kini yang makin menyedihkan.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help