TribunMedan/

Ngopi Sore

Seberapa Empuk Kasur Hotel Kempinski, Pak Al-Khaththath?

Muhammad Al-Khaththath, oleh polisi yang memberikan keterangan, Kombes Argo Yuwono, disebut ditangkap di Hotel Kempinski kamar 123.

Seberapa Empuk Kasur Hotel Kempinski, Pak Al-Khaththath?
KOMPASTV

BERAPA jumlah hotel berbintang di Jakarta? Jawabannya, banyak sekali. Jika dihitung dari bintang tiga saja jumlahnya akan melebihi angka 200. Sekiranya Anda punya waktu berlebih, dan sedang rajin, silakan cek sendiri ke situs-situs penyedia informasi dan pemesanan hotel seperti Agoda atau Traveloka.

Informasi yang disediakan tentu saja termasuk harga per-malam untuk tiap-tiap kamar di hotel- hotel itu. Biasanya, baik Agoda, Traveloka, maupun situs-situs sejenis, menampilkan dua jenis harga, yakni harga normal dan harga promosi.

Jumat pagi, seorang kawan mengirimkan pranala dari Agoda yang menunjukkan harga-harga kamar di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta ke WhatsApp saya. Lantaran tak paham apa maksudnya, saya biarkan saja. Saya tidak meresponnya, meski pun tak berselang terlalu lama setelah masuknya pesan itu, saya melihat informasi sejenis di halaman akun Facebook kawan yang lain. Bedanya, informasi dalam bentuk tangkapan layar itu berasal dari halaman situs Traveloka.

Saya baru paham setelah tiba di kantor. Televisi menayangkan laporan penangkapan Sekretaris Jenderal Forum Umat Islam (FUI), Muhammad Al-Khaththath. Oleh polisi yang memberikan keterangan, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono, beliau disebut ditangkap di Hotel Kempinski pada Jumat dinihari. Ditangkap di kamar 123. Polisi, kata Argo, merangsek ke dalam kamar dan menangkap Muhammad Al-Khaththath yang saat itu sedang tidur. Dalil penangkapannya adalah dugaan terlibat dalam permufakatan makar.

Perihal dalil ini saya tidak ingin mencampuri. Polisi punya dalil, punya alasan, dan mereka tentunya harus dapat mempertanggungjawabkannya. Selain Muhammad Al-Khaththath, atas tudingan yang sama, polisi juga menangkap empat orang yang lain. Kelimanya disebut-sebut akan ambil bagian dalam aksi unjukrasa bela ulama yang kali ini diberi tajuk '313'.

Pun perihal aksi ini. Jutaan orang telah turun ke jalan di berbagai daerah di Indonesia sejak aksi pertama digelar 4 November 2016 (aksi '411'). Jutaan orang yang terusik, dan marah, menyikapi pendapat Basuki Tjahaja Purnama atawa Ahok tentang isi Surah Al Maidah ayat 51 yang dikemukakannya saat berbicara di depan warga dalam satu kunjungan ke kawasan Kepulauan Seribu dalam kapasitasnya (waktu itu) sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Saya tak akan mencampurinya (lagi) dan berpendapat atasnya. Saya kira setiap orang memang berhak untuk berpendapat atas pendapat Ahok. Perkara pendapat itu kuat atau lemah atau brilian atau menggelikan dan membuka celah untuk perdebatan-perdebatan, persoalannya berbeda. Dan aksi merupakan satu di antara bentuk pendapat. Lebih tepatnya sikap.

Saya lebih tertarik pada tangkapan-tangkapan layar tarif kamar hotel dari Agoda dan Traveloka yang dikirim kawan-kawan saya tadi. Kiriman yang di lain sisi telah membongkar dan kemudian mencuatkan obsesi lama saya.

Sebagai orang yang kurang piknik di masa kecil, jarang bepergian ke tempat-tempat baru, saya jarang-jarang menginap di hotel. Dan ini membuat otak saya membentuk semacam standar: bahwa hotel, yakni kamarnya dan restorannya dan kolam renangnya, adalah kemewahan yang sulit untuk dijangkau dan cuma bisa dipandang dari jauh. Lewat televisi, lewat film, lewat lagu. Juga lewat lembaran surat kabar dan foto-foto dalam iklan-iklan berwarna di majalah.

Saya paling suka melihat kasurnya. Kasur-kasur pegas berlapis kain berbusa yang kelihatan sungguh berbeda dengan kasur kapuk di rumah saya. Sering saya membayangkan empuknya kasur-kasur itu. Tidur di atasnya pasti akan nyenyak sekali.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help