Home »

Bisnis

» Makro

Sawit Indonesia di Boikot Uni Eropa, Ini Solusi dari Tiur Rumondang

"Setiap negara berhak untuk memproteksi komoditasnya masing-masing dan setiap negara punya maksud tersendiri di balik itu," kata Tiur.

Sawit Indonesia di Boikot Uni Eropa, Ini Solusi dari Tiur Rumondang
WWF/J Morgan
Ilustrasi - Sawit Indonesia 

TRIBUN-MEDAN.com - Setiap negara berhak untuk memproteksi komoditas yang memberikan kontribusi besar terhadap kegiatan ekspor dan berkontribusi besar terhadap penerimaan negara.

Hal tersebut dikatakan Direktur Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) Tiur Rumondang dalam menanggapi upaya pemerintah yang saat ini tengah memperjuangkan penolakan resolusi Uni Eropa terkait pembatasan impor minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) mulai 2020 mendatang.

Menurut Tiur, sudah merupakan sikap yang wajar jika pemerintah menolak habis-habisan kebijakan perdagangan internasional yang mengganggu terkait kelangsungan industri sawit tanah air.

"Setiap negara berhak untuk memproteksi komoditasnya masing-masing dan setiap negara punya maksud tersendiri di balik itu," kata Tiur di Jakarta, Selasa (18/4/2017).

Tiur menilai, resolusi tersebut bisa dijadikan cambukan agar Indonesia semakin memperbaiki standar produksi kelapa sawit. Agar produksi kelapa sawit tanah air semakin bersaing dengan produk dari luar.

"Justru ini menjadi momentum perbaikan bagi sektor perbaikan kelapa sawit dalam negeri. Kami juga melihat ini bukanlah upaya perang dagang, karena ada peluang untuk menaikkan standar komoditas," ucap Tiur.

Berdasarkan data RSPO, saat ini baru 1,82 juta hektar yang sudah disertifikasi RSPO. Artinya, angka itu baru 13 hingga 14 persen dari seluruh lahan kelapa sawit di Indonesia.

Oleh karena itu, RSPO melihat bahwa resolusi Uni Eropa ini merupakan kesempatan yang sangat baik dan seharusnya bisa dimanfaatkan oleh seluruh anggota RSPO.

Sekadar informasi, RSPO merupakan organisasi nirlaba yang mempersatukan para pemangku kepentingan yang berasal dari tujuh sektor di sepanjang industri kelapa sawit

Para pemangku kepentingan tersebut yakni perkebun kelapa sawit, pengelola atau penjual minyak kelapa sawit, produsen barang dan konsumen, peritel, bank, investor, LSM konservasi lingkungan dan LSM sosial untuk mendorong minyak kelapa sawit berkelanjutan.

Pada 2016, sebanyak 2.700 petani swadaya kelapa sawit dengan luas lahan 5.500 hektare di tiga kecamatan Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan meraih sertifikat berkelanjutan RSPO. Sertifikasi ini menjadi yang terbesar di dunia untuk kelompok petani swadaya.

Hingga Februari 2017, produksi kelapa sawit yang sudah menggenggam sertifikasi Certfied Sustainable Palm Oil (CSPO) di seluruh dunia tercatat sebesar 12,22 juta metrik ton. Indonesia sendiri mengambil porsi 57,03 persen dari produksi tersebut, atau 6,97 juta metrik ton. (*)

Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help