Dahlan Iskan Divonis 2 Tahun, Lebih Rendah dari Tuntutan Jaksa dan Statusnya Tahanan Kota

Hakim ketua Taksin menyatakan terdakwa mantan Menteri BUMN itu terbukti melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama sebagaimana dalam dakwaan

Dahlan Iskan Divonis 2 Tahun, Lebih Rendah dari Tuntutan Jaksa dan Statusnya Tahanan Kota
SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ
Dahlan Iskan. 

TRIBUN-MEDAN.COM, SURABAYA - Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Surabaya memvonis Dahlan Iskan dua tahun penjara dalam kasus pelepasan aset PT Panca Wira Usaha, Jumat (21/4/2017).

Hakim ketua Taksin menyatakan terdakwa mantan Menteri BUMN itu terbukti melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama sebagaimana dalam dakwaan subsider.

Terdakwa dianggap bersalah karena tidak melaksanakan tugas dan fungsinya secara benar saat menjabat Dirut PT PWU hingga akhirnya aset yang dijual dibawah NJOP.

"Menjatuhkan pidana penjara selama 2 tahun, denda Rp 100 Juta, subsider 2 bulan," ujar Taksin.

Meski diganjar hukuman dua tahun, Dahlan tetap berstatus tahanan kota.

Vonis terhadap Dahlan lebih rendah dari tuntutan jaksa yakni enam tahun dalam persidangan pada Jumat (7/4/2017).

Baca: Dahlan Iskan Tak Mau Jawab Pertanyaan Penyidik saat Diperiksa Kasus Mobil Listrik, Ini Alasannya

Baca: Pesan Moral Yenny Wahid pada Proses Hukum yang Dihadapi Dahlan Iskan

Tuntutan setebal 365 halaman itu dibaca secara bergantian oleh enam jaksa.

Inti tuntutan jaksa, terdakwa Dahlan dinilai terbukti melanggar Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Pembarantasan Tindak Pidana Korupsi.

"Menuntut terdakwa dengan pidana enam tahun penjara," tutur jaksa Trimo.

Dalam surat tuntutan itu selain hukuman badan, jaksa juga menuntut terdakwa membayar denda Rp 750 juta subsider 6 bulan penjara.

Dahlan juga dituntut membayar ganti rugi negara sebesar Rp 8,3 miliar ditanggung berdua dengan PT Sempulur Adi Mandiri selaku pembeli aset PT PWU.

Jaksa Trimo menegaskan Dahlan diwajibkan membayar ganti rugi negara sebesar Rp 4,1 miliar.

Apabila tak membayar akan diganti hukuman badan selama 3,5 tahun penjara. (*)

Editor: Arifin Al Alamudi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help