Home »

Sumut

News Video

Gajah Seberat 2 Ton Mati di Perkebunan Sawit Langkat, Diduga Kena Jerat Babi

Gajah liar tersebut mati, Selasa (18/4/2017), sekitar pukul 12.00 WIB, di areal kebun PT Perkebunan Inti Sawit Subur (PISS).

Gajah Seberat 2 Ton Mati di Perkebunan Sawit Langkat, Diduga Kena Jerat Babi

Laporan Wartawan Tribun Medan/M Andimaz Kahfi

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN-Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara menyesalkan kematian seekor Gajah di Dusun Pancasila, Desa Mekar Makmur, Kecamatan Sei lepan, Langkat.

Gajah liar tersebut mati, Selasa (18/4/2017), sekitar pukul 12.00 WIB, di areal kebun PT PISS.

Laporan adanya kematian gajah diberitahukan oleh masyarakat Desa Mekar Makmur melalui telepon.

Tim gabungan penanganan yang terdiri dari Balai besar KSDA Sumut, Balai besar Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Yayasan Orangutan Sumatera Lestari Orangutan Information Centre (YOSL-OIC), Vesswic dan The Wildlife Conservation Society (WCS) ke lokasi kematian Gajah tersbeut, Rabu (19/4/2017), untuk melakukan otopsi sehingga dapat mengetahui atas penyebab kematian gajah. Mereka juga hendak menyelamatkan anak gajah yang masih ada di sekitar lokasi kejadian.

Kepala Balai besar KSDA Sumut Hotmauli Sianturi mengatakan, gajah seberat dua ton itu berusia 12 tahun dan berjenis kelamin betina.

"Sejak saya masuk konservasi asal ada kejadian mengenai gajah seperti ini rasanya sangat sedih," kata Hotmauli, Jumat (21/4/2017).

"Keprihatinan saya yang mendalam atas kejadian ini. Kita tidak bisa mencegah apapun karena seperti itu situasinya," tambahnya.

Kabid Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Balai besar TNGL Ardi Andono mengatakan konflik antara manusia dan gajah basa terjadi di wilayah home range atau wilayah jelajah gajah.

"Gajah terdiri dari dua kelompok, yang terdiri dari 20 sampai 30 ekor. Konfliknya berupa adanya pemasangan-pemasangan jerat, yang mungkin ditujukan untuk babi dan sebagainya,“ kata Ardi.

Tahun 2016 silam juga pernah terjadi kematian gajah karena jerat perangkap hewan.

Menurutnya, TNGL telah melakukan smart patrol agar mencegah timbulnya masalah seperti ini.

Baca: Tengku Erry ke Turki Jemput Pembangkit Listrik Terapung, Kapan Sampai di Sumut?

PLTG Terapung dari Turki.
PLTG Terapung dari Turki. ()

"Smart patrol terdiri dari tujuh orang yang melakukan pengecekan khusus, biasanya 14 hari masuk ke dalam kawasan hutan ataupun ke pinggir kawasan," kata Ardi.

"Untuk mengecek apakah ada gajah yang masuk atau tidak, kemudian mengecek barang bukti perburuhan," pungkas Ardi. (cr9/tribun-medan.com)

Penulis: M.Andimaz Kahfi
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help