TribunMedan/
Home »

Sumut

Kasus Pancagila, Sahat Gurning Tidak Terbukti Menghina Lambang Negara

Hakim menilai bahwa gambar yang ditendang Sahat Gurning bukan lambang negara.

Kasus Pancagila, Sahat Gurning Tidak Terbukti  Menghina Lambang Negara
Ist
Foto Sahat Gurning yang dianggap menghina lambang negara. 

TRIBUN-MEDAN.com, BALIGE-Sahat S Gurning (27), warga Jalan Sigura-gura Desa Tangga Batu Satu, Kecamatan Parmaksian, Toba Samosir, terdakwa kasus dugaan penghinaan dan pelecehan ambang negara diputus bebas oleh Ketua Majelis Hakim, Azhary Ginting di Pengadilan Negeri Tobasa, Jalan Patuan Nagari, Balige, Jumat (21/4/2017) sore.

Pada amar putusannya, majelis hakim menilai jika Sahat Gurning tidak terbukti melakukan pelecehan dan penghinaan terhadap burung garuda sebagai lambang negara.

Hakim menilai bahwa gambar yang ditendang terdakwa bukan lambang negara.

Majelis hakim juga menilai jika unsur lambang negara dan unsur mensrea (maksud) tidak terpenuhi. Usai membacakan putusannya, Jaksa Penuntut Umum Zhulhelmi Sinaga mengaku pikir-pikir.

Sebelumnya, Jaksa Penutut Umum, menuntut Sahat 2 tahun 6 bulan penjara, atas perbuatannya yang menendang gambar menyerupai burung garuda, yang mana aksinya itu lalu difoto dan diposting ke akun facebook miliknya.

Atas postingan itu, Sahat lalu ditangkap oleh petugas kepolisian dari Polres Tobasa pada tanggal 12 April 2016 lalu dan menetapkannya sebagai tersangka pelecehan burung garuda sebagai lambang negara.

Atas putusan persidangan yang membebaskan Sahat S Gurning, kuasa hukumnya, Sri Falmen Siregar SH, Juara Amin Tua Hasibuan SH dan Kirno Siallagan SH, dan Boy Raja Marpaung SH, mengatakan jika pada putusan tersebut terdapat perbedaan pendapat antara sesama majelis hakim, yang mana salah satu hakim anggota menafsirkan jika terdakwa terbukti bersalah.

"Sah-sah saja jika hakim itu menafsirkan, karena mereka juga sumber hukum. Hanya saja, menurut kami tidak perlu penafsiran karena lambang negara itu sudah diatur di dalam UU Nomor 24 Tahun 2009, kecuali jika tidak diatur," ujarnya.

Sahat Gurning foto bersama keluarga, rekan sekampung, dan kuasa hukumnya di depan PN Balige, Tobasa, Jumat (21/4/2017).
Sahat Gurning foto bersama keluarga, rekan sekampung, dan kuasa hukumnya di depan PN Balige, Tobasa, Jumat (21/4/2017). (Tribun Medan/Arjuna Bakkara)

Sri Falmen juga mengatakan, jika keadilan tersebut masih berpihak kepada yang benar. "Kita apresiasi putusan sidang ini, ternyata keadilan juga masih berpihak kepada yang benar," ujarnya mengakhiri.

Amatan wartawan, persidangan, dikawal sejumlah personil kepolisian Polres Tobasa. Warga sekampung Sahat yang didominasi kaum ibu berkisar usia 50 sampai 60 tahun, terlihat setia menunggu putusan Sahat.

Diputus bebas, Sahat yang lulusan ITM ini mengaku akan tetap berjuang untuk kepentingan kaum marginal. Seperti pengakuan dan, pengembalian hak masyarakat adat, revolusi agraria, pengakuan secara administrasi terhadap penghayat kepercayaan, serta miskinkan dan tembak mati koruptor. (cr1/tribun-medan.com)

Penulis: Arjuna Bakkara
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help