TribunMedan/

Ngopi Sore

Selamat Hari Kartini, Mbak Dian Sastro

Apakah Kartini memang sebenar-benarnya pantas jadi pahlawan atau tidak? Apakah pemerintah telah keliru menetapkannya sebagai pahlawan?

Selamat Hari Kartini, Mbak Dian Sastro
THE JAKARTA POST
DIAN Sastrowardoyo 

Di luar mereka muncul pula sejumlah figur yang dinilai tak kalah hebat dan pantas pula dipahlawankan. Misalnya Boetet Satidjah, CH Haridjah, dan Siti Sahara, tiga wartawan perempuan yang nekat menantang pemerintah kolonial Hindia Belanda dengan mendirikan surat kabar Perempoean Bergerak pada tahun 1919.

Sampai di sini pertanyaannya, apakah Kartini memang sebenar-benarnya pantas jadi pahlawan atau tidak? Apakah pemerintah telah keliru menetapkannya sebagai pahlawan? Apakah jika ada Hari Kartini, maka seharusnya ada Hari Tjoet Njak Dhien, Hari Tjoet Njak Meutia, Hari Martha Christina Tiahahu, atau Hari Maria Walanda Maramis?

Nama terakhir, dalam ruang lingkup yang lebih kecil, yakni masyarakat Minahasa, sesungguhnya diperlakukan sama seperti Kartini. Tiap 1 Desember di Minasaha diperingati sebagai Hari Ibu Maria Walanda Maramis.

Pertanyaan di atas belum terjawab. Benar, dan saya kira saya memang tidak ingin menjawabnya. Apakah Kartini pantas jadi pahlawan atau tidak, silakan Anda baca buku Panggil Aku Kartini Saja yang ditulis Pramoedya Ananta Toer.

kartini1
kartini1 ()

Di antara entah berapa banyak buku tentang Kartini, buku Pram yang sesungguhnya terdiri dari empat jilid ini (namun dua jilid dilenyapkan dari peradaban oleh Pemerintah Orde Baru) adalah buku bukan saja paling lengkap, lebih jauh juga paling bisa dipercaya tak memaparkan kibul-kibul yang mengacaukan sejarah.

Atau bisa juga memeriksa Kartini: Her Life. Work and Influence yang ditulis Alisa G. Thomson Zainuddin untuk satu jurnal terbitan Monash University, Melbourne, Australia. Silakan menilai dari sana.

Pastinya, pantas tak pantas Kartini sebagai pahlawan, segala macam seremonial dan pengedepanan simbolisme konde dan kebaya, saya kira merupakan pengejawantahan yang keliru dari semangat kebebasan berpikir. Apakah relevansi mengenakan konde dan kebaya, lalu ramai- ramai mendayung perahu karet menyusuri sungai yang penuh jeram, atau terjun payung, atau surfing, dengan semangat kesetaraan gender?

Biarlah kau tertawakan aku, dan aku tahu kau tak berbuat begitu, gagasan ini takkan lepas dari genggamanku. Memang ini pekerjaan rumit, tapi barang siapa tidak berani, dia tak bakal menang. Itulah semboyanku! Maju! Semua harus dilakukan dan dimulai dengan berani! Pemberani-pemberani memenangkan tiga perempat dunia!

Iya, pemikiran Kartini, terlalu rendah dan sempit jika hanya dikerutkan dalam konde dan kebaya. Sebaliknya, seremonial dan simbolisme ini justru menjerumuskan Kartini, atau membenarkan kecurigaan bahwa dia memang tak lebih dari sekadar perempuan yang hanya bisa melawan dalam diam lantaran tak berdaya dan berakhir tragis dalam kungkungan tradisi darah biru yang serba ketat dan kaku.

Namun terlepas dari semua itu, bagi saya, ada yang menggembirakan dari perayaan Hari Kartini tahun ini. Hanung Bramantyo membuat film tentang Kartini dan menunjuk Dian Sastrowardoyo untuk memerankannya. Entah film ini akan mengesankan atau tidak memuaskan seperti memoir Soe Hok Gie atau Wiji Thukul, barangkali bisa kita bahas di waktu yang lain. Yang jelas, mengesankan atau tidak memuaskan, Dian Sastro digaransi tetap ciamik.

Dan untuk itulah saya ingin mengucapkan selamat Hari Kartini untuk dia.(t agus khaidir)

Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help