TribunMedan/

Kongres Ulama Perempuan: Poligami Bukan Tradisi Islam

Para ulama perempuan menyebutkan poligami merupakan praktik yang sudah ada sejak sebelum masa Nabi Muhammad SAW.

Kongres Ulama Perempuan: Poligami Bukan Tradisi Islam
bbc

TRIBUN-MEDAN.COM - Ratusan perempuan ulama, aktivis dan akademisi akan hadir dalam Kongres Ulama Perempuan Indonesia KUPI pertama yang digelar di Pesantren Kebon Jambu, Babakan Ciwaringin Cirebon pada 25-27 April.

Pertemuan ini disebut sebagai bentuk konsolidasi para ulama perempuan yang selama ini bekerja untuk menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat sipil.

Masalah poligami menjadi pembahasan dalam kongres dan disebut sebagai salah satu bentuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Para ulama perempuan menyebutkan poligami merupakan praktik yang sudah ada sejak sebelum masa Nabi Muhammad SAW.

Dosen Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran, Jakarta, Dr Nur Rofiah Bil Uzm mengatakan pada masa itu para laki-laki boleh menikahi perempuan dengan jumlah yang tidak terbatas, lalu ayat (dalam surat An-Nisa) ini membatasi empat.

"Poligami bukan tradisi dari Islam, dalam Al-Qur'an itu mengatur, sebagai problem lalu diatasi, sama seperti misalnya pencatatan perkawinan, itu kan ada problem kalau perkawinan tidak dicatat lalu orang sesuka hati cerai begitu, lalu diatasi," jelas Nur.

Dia mengatakan dalam berpoligami, Rasul memberikan contoh bagaimana memperlakukan keluarga dengan adil.

"Mengapa Rasulullah poligami? Karena perlu contoh riil ketika poligami tidak atau belum mungkin dihapuskan, kan orang perlu dicontohkan bagaimana memperlakukan keluarga manusiawi dengan seperti itu," kata Nur.

Nur Rofiah mengatakan Islam menekankan monogami.
Nur Rofiah mengatakan Islam menekankan monogami. (bbc indonesia)

Dia mengatakan inti ajaran Islam adalah keadilan dalam keluarga, bukan mengenai jumlahnya seperti yang dipahami selama ini.

Ayat yang sering digunakan untuk membenarkan poligami ada dalam Surat An-Nisa (4) ayat 3 :"…. Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi:dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki.

Halaman
123
Editor: Tariden Turnip
Sumber: bbc
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help