Inspiratif

Indri Rosidah Guru Cantik yang Ikuti Program SM3T Ini Curhat Mengenai Pengalamannya Mengajar

“Lantai rumah orangtuanya masih tanah. Artinya, tidak gunakan semen sebagaimana rumah kebanyakan orang. Kemudian dinding rumahnya masih tepas,"

Indri Rosidah Guru Cantik yang Ikuti Program SM3T Ini Curhat Mengenai Pengalamannya Mengajar - boisman-gori-tribun_20170502_180519.jpg
Tribun Medan / HO
Boisman Gori, Siswa Kelas V SD Puncak Lolomatua, Ulonoyo Nias Selatan membawa adeknya ke sekolah. Ia mengajar sembari memegang adeknya.
Indri Rosidah Guru Cantik yang Ikuti Program SM3T Ini Curhat Mengenai Pengalamannya Mengajar - indah-rosidahtribun_20170502_180114.jpg
Tribun Medan / Jefri
Indri Rosidah, alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang sedang mengikuti program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) dan sedang mengajar di daerah pedalaman Nias Selatan, Selasa (2/5/2017). (Tribun Medan / Jefri)
Indri Rosidah Guru Cantik yang Ikuti Program SM3T Ini Curhat Mengenai Pengalamannya Mengajar - indah-rosidah-tribun2_20170502_175936.jpg
Tribun Medan / Jefri
Indri Rosidah, alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang sedang mengikuti program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T), Selasa (2/5/2017). (Tribun Medan / Jefri)

Laporan Wartawan Tribun Medan / Jefri Susetio

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Indri Rosidah, alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang sedang mengikuti program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) mengupload foto siswanya, Boisman Gori belajar sembari mengendong adeknya.

“Saya cukup sedih jika melihat keadaan siswa bernama Boisman Gori, yang terkadang belajar bawa adiknya. Dia sangat menyayangi adeknya. Saat saya mengajar, dia (Boisman) selalu memeluk dan mencium kepala adeknya,” ujarnya, saat dihubungi www.tribun-medan.com, Selasa (2/5/2017).

Indah Rosidah, alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang sedang mengikuti program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) dan sedang mengajar di daerah pedalaman Nias Selatan, Selasa (2/5/2017). (Tribun Medan / Jefri)
Indah Rosidah, alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang sedang mengikuti program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) dan sedang mengajar di daerah pedalaman Nias Selatan, Selasa (2/5/2017). (Tribun Medan / Jefri) (Tribun Medan / Jefri)

Indah sapaan guru asal Bandung ini menambahkan, Boisman merupakan siswa kelas V SD, Puncak Lolomatua, Kecamatan Ulunoyo, Kabupaten Nias Selatan. Puncak Lolomatua merupakan daerah dataran tertinggi di Nias Selatan.

Boisman Gori anak ketiga dari tujuh bersaudara dan balita yang sering digendongnya ke sekolah adalah adek bungsunya. Kehidupan orangtuanya cukup memperihatinkan.

Baca: Takut-takuti Warga dengan Parang Dua Kuli Bangunan Digiring ke Sel

“Lantai rumah orangtuanya masih tanah. Artinya, tidak gunakan semen sebagaimana rumah kebanyakan orang. Kemudian dinding rumahnya masih tepas, beratap rumbia dan rumah mereka paling dekat dengan sekolah ini,” katanya.

Boisman Gori, Siswa Kelas V SD Puncak Lolomatua, Ulonoyo Nias Selatan membawa adeknya ke sekolah. Ia mengajar sembari memegang adeknya.
Boisman Gori, Siswa Kelas V SD Puncak Lolomatua, Ulonoyo Nias Selatan membawa adeknya ke sekolah. Ia mengajar sembari memegang adeknya. (Tribun Medan / HO)

Perempuan berkulit putih ini menceritakan, Boisman Gori membawa adeknya ke sekolah bila kedua orangtuanya ke ladang untuk menyadap getah.

Sehingga, tidak ada yang menjaga, adeknya di rumah. Apalagi keduanya orangtua mengadalkan hidup dari lahan pertanian.

Indah Rosidah, alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang sedang mengikuti program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T), Selasa (2/5/2017). (Tribun Medan / Jefri)
Indah Rosidah, alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang sedang mengikuti program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T), Selasa (2/5/2017). (Tribun Medan / Jefri) (Tribun Medan / Jefri)

“Setiap ibunya pergi ke pekan (pasar yang bukan seminggu sekali) atau menyadap getah, pasti Boisman membawa adeknya ke sekolah. Anaknya penuh kesadaran, dan tabah hidup dalam keadaan serba kekurangan. Saya terkesima melihat kondisi siswa-siswi di sini,” ungkapnya.

(tio/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved