Ngopi Sore

Ahok Sudah Dibui Kenapa Masih Ribut Lagi

Kenapa masih ada ribut-ribut lagi? Kenapa, kok, sepertinya doyan betul ribut-ribut? Apakah tidak merasa capek? Tidak bosan?

Ahok Sudah Dibui Kenapa Masih Ribut Lagi
WARTA KOTA/HENRY LOPULALAN
TERPIDANA kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok melambaikan tangan saat tiba di rumah tahanan LP Cipinang, Jakarta, Selasa (9/5/2017). Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara memutuskan menjatuhi hukuman Ahok selama dua tahun penjara karena terbukti melanggar Pasal 156 KUHP tentang penodaan agama. 

SEMULA saya mengira setelah Basuki Tjahaja Purnama dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana penistaan agama dan lantaran itu harus dihukum bui dua tahun, semua ribut-ribut yang menyangkut dirinya, langsung atau tak langsung, akan ikut usai.

Apa lagi yang harus diributkan, pikir saya. Tuntutan yang memicu aksi unjukrasa yang berjilid- jilid itu sudah diluluskan. Tuntutan yang menghadirkan kedongkolan dan ledak-ledak amarah telah dikabulkan. Ahok dipenjarakan dan dinonaktifkan dari jabatan sebagai Gubernur Jakarta. Sebelumnya, dalam pemilihan umum, Ahok yang berpasangan dengan Djarot Syaiful Hidayat, dikalahkan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.

Jadi pada dasarnya Ahok memang sudah kalah dengan sangat telak. Jika memakai terminologi tinju, dia kalah knock out. Dipukul jatuh, K.O, dan tak punya kesempatan lagi untuk melawan karena wasit telah menyelesaikan hitungan.

Namun rupa-rupanya saya terlalu naif. Pemikiran saya kelewat pendek untuk memperkirakan kemungkinan-kemungkinan dan potensi-potensi lain dan inilah yang justru terjadi. Ahok dibui dan keributan berlanjut. Malah kadar keributannya tiada kalah aduhai dibanding sebelumnya. Bahkan boleh dibilang lebih dahsyat lantaran sekarang garis perseteruan kelihatan jauh lebih tegas, yakni dua kubu yang masing-masing memandang situasi ini sebagai duel antara 'kita' dan 'mereka'.

Tengoklah ke halaman-halaman media sosial. Terutama Facebook. Anda akan mendapati betapa halaman-halamannya telah mengalami pergeseran hakikat yang signifikan: dari pertemanan menjadi permusuhan.
Pengelompokan 'kita' dan 'mereka', membuat siapa pun bisa dengan mudahnya dirisak dan dijadikan musuh bersama lantaran perbedaan pendapat yang sesungguhnya masih sangat bisa didiskusikan dan dicari titik temunya.

Namun ini tidak terjadi. Persis ribut-ribut di tahun-tahun pra dan pasca 1965, di mana siapa pun bisa enteng belaka --entah didasari pemahaman ideologi atau kebencian pribadi-- menuding dan dituding sebagai kontra revolusioner dan antek PKI, sekarang siapa pun bisa menuduh dan dituduh sebagai munafik dan kafir --pendosa dan ahli surga. Tolok ukurnya cuma dua: pro atau kontra Ahok dan Jokowi dan pro atau kontra FPI.

MASSA mengatasnamakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) berunjukrasa di Jakarta, beberapa waktu lalu.
MASSA mengatasnamakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) berunjukrasa di Jakarta, beberapa waktu lalu. (AFP PHOTO/ADEK BERRY)

Belakangan, tolok ukurnya bertambah satu. Yakni mendukung atau tidak mendukung rencana pembubaran HTI. Pendukung pembubaran dipertanyakan kadar keislamannya dan ramai-ramai dicap sebagai pendosa, penista agama, dan layak dirajam sampai mampus.

Padahal, sepanjang pengetahuan saya, jauh sebelumnya perhatian terhadap HTI tidak begini-begini amat. Berbeda dibanding Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Al Washliyah, bahkan FPI sekali pun, dari sisi identitas, umat Islam di Indonesia tidak pernah benar-benar bersatu suara untuk menempatkan HTI sebagai representasi Islam. Ada perbedaan pandangan di sini. Meski bergerak juga di jalan dakwah, HTI lebih sering dipandang sebagai organisasi impor yang gencar menyuarakan kontra demokrasi dan memperjuangkan kembalinya sistem kekhilafahan yang tentu saja tidak sejalan dengan falsafah Pancasila dan UUD 1945.

Pertanyaannya, kenapa sekarang pandangan tersebut bisa bergeser jauh sekali? Kenapa tiba-tiba HTI, yang di banyak negara termasuk negara-negara Islam, dilarang dan dibubarkan mendapat pembelaan yang demikian sengit dan masif? Kenapa rencana pembubaran ini sempat dikaitpautkan dengan kasus Ahok dan diyakini sebagai semacam upaya pengalihan isu? Keyakinan ini, kita tahu, ternyata keliru. Setidaknya secara wantah. Ahok tetap dinyatakan bersalah dan dibui dua tahun.

Namun kenapa masih ada ribut-ribut lagi? Kenapa, kok, sepertinya doyan betul ribut-ribut? Apa tidak merasa  capek? Tidak bosan? Apa lagi yang dicari? Apa lagi yang dituntut? Ahok harus bagaimana lagi? Apakah dia harus dihukum pancung lalu dimutilasi dan sebagian tubuhnya dibuang ke Mars dan sebagian lagi ke Neptunus?

MASSA pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menggelar acara Malam Solidaritas Matinya Keadilan di Tugu Proklamasi, Jakarta, Rabu (10/5/2017).
MASSA pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menggelar acara Malam Solidaritas Matinya Keadilan di Tugu Proklamasi, Jakarta, Rabu (10/5/2017). (KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO)
SEJUMLAH pendukung terpidana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menyalakan lilin saat melakukan aksi di Tugu Proklamasi, Jakarta, Rabu (10/5/2017).
SEJUMLAH pendukung terpidana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menyalakan lilin saat melakukan aksi di Tugu Proklamasi, Jakarta, Rabu (10/5/2017). (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN)
Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved