TribunMedan/
Home »

Cetak

Abrasi di Pantai Labu Semakin Parah, Warga Disarankan Tanam Mangrove di Belakang Rumah

Ia menjelaskan, masyarakat bersama kelompok tani telah bersepakat untuk fokus menanam pohon di kawasan pesisir pantai yang berada di dusun empat.

Abrasi di Pantai Labu Semakin Parah, Warga Disarankan Tanam Mangrove di Belakang Rumah
TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
Warga melintas di tepian laut Pantai Labu yang terkikis akibat pengerukan pasir ilegal, di Perairan Pantai Labu, Deliserdang, Rabu (3/5/2017). Masyarakat memohon pemerintah setempat untuk segera memperhatikan kerusakan akibat abrasi yang disebabkan pengerukan pasir pantai yang dilakukan secara ilegal sepanjang 80 meter. 

TRIBUN-MEDAN.COM, PAKAM - Sejak dua tahun lalu, abrasi atau pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak di Desa Regemuk, Pantai Labu, Deliserdang, semakin parah. Alhasil, bibir pantai semakin dekat dengan permukiman penduduk.

"Selama dua tahun belakangan ini, abrasinya cukup parah. Setidaknya 50 meter daratan atau bibir pantai sudah habis. Pohon-pohon mangrove sudah hilang dibawa gelombang. Dampaknya mulai dirasakan masyarakat," ujar Kepala Desa Regemuk, Sofyan Edrian, kepada Tribun-Medan.com akhir April lalu.

Sofyan menambahkan, tidak henti menyampaikan sosialisasi kepada masyarakat agar menanam mangrove di belakang rumah. Sebab, mangrove di belakangan rumah atau bibir pantai dapat menghambat angin dari laut dan menghalau air pasang.

Bila angin dari laut langsung menerjang permukiman warga dapat menimbulkan kerusakan di tempat-tempat fasilitas publik atau rumah. Selain itu, katanya, Kelompok Tani Lestari Alam setiap hari menanam mangrove di bibir pantai. Tapi, banyak masyarakat kesal karena abrasi sudah menghancurkan puluhan hektare hutan mangrove dan mengurangi bibir pantai.

"Abrasinya setiap hari. Pelan-pelan berkurang bibir pantai dan pohon-pohon yang kami tanam dari kelompok tani habis. Tapi, setiap hari kelompok tani menanam pohon mangrove, dan paling kasihan rumah warga terkena dampaknya," katanya.

Menurutnya, jika masyarakat enggak peduli lingkungan dan berhenti menanam pohon mengrove maka akan sering terjadi bencana alam. Karena itu, ia selalu turun ke tengah masyarakat untuk mendorong penanaman pohon.

Tidak hanya itu, kelompok tani mangrove juga sering mendapat bantuan bibit dari perusahaan swasta atau beberapa universitas di Sumut. Bantuan bibit mangrove tersebut ditanam di kawasan pantai.

Ia menjelaskan, masyarakat bersama kelompok tani telah bersepakat untuk fokus menanam pohon di kawasan pesisir pantai yang berada di dusun empat. Apalagi, selama ini, pohon mangrove di dusun empat minim.

Ia menduga abrasi disebabkan faktor alam. Ia tidak menyebutkan pengerukan pasir menjadi faktor utama abrasi.

"Saya tidak berani bilang penyebab abrasi dari mana saja, karena paling utama faktor alam. Jadi, saya tidak berani katakan pengerukan pasir jadi penyebab terbesar abrasi. Belum ada kajian tentang pengerukan pasir itu," ujarnya.

Ia mengungkapkan, belum ada penelitian dari lembaga tertentu yang menyimpulkan abrasi di pesisir Pantai Labu, khususnya Desa Regemuk, akibat pengerukan pasir.

Sofyan membenarkan pengerukan pasir di perairan Pantai Labu, sudah berlangsung cukup lama. Bahkan, sebelum ia menjabat sebagai kepala desa, sudah ada pengerukan pasir. Karena itu, ia memberi saran kepada warga agar jaga lingkungan.

"Luas Desa Regemuk 300 hektare dan dihuni 653 kepala keluarga. Ada dua mata pencarian masyarakat, yakni seperti nelayan dan petani. Kemudian ada komunitas UMKM seperti pembuatan dodol mangrove, kerupuk mangrove dan sirup mangrove," katanya.(tio)

Editor: Arifin Al Alamudi
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help