TribunMedan/
Home »

Cetak

Edisi Cetak Tribun Medan

Gara-gara Abrasi Akibat Pengerukan Pasir Luat, Warga Kebanjiran Setiap Air Laut Pasang

Sehingga, Anuar alias Ucok, penangkar mangrove asal Desa Regemuk, Pantai Labu, meneteskan air mata, karena pohon mangrove yang ditanamnya hancur.

Gara-gara Abrasi Akibat Pengerukan Pasir Luat, Warga Kebanjiran Setiap Air Laut Pasang
TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
Warga melintas di tepian laut Pantai Labu yang terkikis akibat pengerukan pasir ilegal, di Perairan Pantai Labu, Deliserdang, Rabu (3/5/2017). Masyarakat memohon pemerintah setempat untuk segera memperhatikan kerusakan akibat abrasi yang disebabkan pengerukan pasir pantai yang dilakukan secara ilegal sepanjang 80 meter. 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Pengerukan pasir laut di perairan Pantai Labu, Deliserdang, berujung abrasi atau pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut, di beberapa desa.

Dampaknya, garis pantai berkurang, sekitar 80 meter, dalam beberapa tahun terakhir.

Kerusakan pantai alias abrasi teranyar terjadi pada Februari 2017. Ratusan pohon mangrove hilang dibawa arus laut.

Sehingga, Anuar alias Ucok, penangkar mangrove asal Desa Regemuk, Pantai Labu, meneteskan air mata, karena pohon mangrove yang ditanamnya hancur.

"Sedih, saya. Menangis saya ketika melihat tanaman mangrove hancur karena abrasi pada Februari 2017. Kesal rasanya pohon mengrove yang sudah tua hilang dibawa arus laut. Sakit hati saya," ujarnya di kawasan hutan mangrove, Jumat (29/4/2017) pagi.

Anuar menyatakan, banyak pohon mangrove atau bakau, yang ditanam 27 tahun lalu sudah hancur.

Padahal, proses pembibitan hingga pohon mangrove besar membutuhkan waktu lama. Karena itu, ia menentang pengerukan pasir di kawasan pesisir Pantai Labu.

"Lelah dan terasa kali capeknya, hancur pohon bakau, karena abrasi. Sedih saya. Kenapa pemerintah kurang peduli? Anggota DPRD juga tidak pernah datang melihat kerusakan lingkungan," katanya.

Selain itu, katanya, abrasi mengakibatkan panjang bibir pantai di Desa Regemuk dan Baganserdang berkurang sekitar 80 meter dan lebar 5.000 meter. Kini, rumah warga menjadi langganan banjir setiap air laut pasang.

Ia menduga, abrasi yang terjadi di kawasan pesisir Pantai Labu akibat pengerukan pasir laut. Kapal-kapal pengeruk pasir laut sudah beroperasi sejak 1998 hingga Februari 2017.

Halaman
1234
Editor: Arifin Al Alamudi
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help