TribunMedan/
Home »

Cetak

Edisi Cetak Tribun Medan

Penangkar Mangrove dari Pantai Labu Ini Pernah Diculik, Ini yang Terjadi Padanya

Ia menyampaikan, kala itu tidak banyak warga yang menentang penebangan hutan mangrove. Ia berjuang sendiri agar penegak hukum dan pemerintah membatalk

Penangkar Mangrove dari Pantai Labu Ini Pernah Diculik, Ini yang Terjadi Padanya
TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
Warga melintas di tepian laut Pantai Labu yang terkikis akibat pengerukan pasir ilegal, di Perairan Pantai Labu, Deliserdang, Rabu (3/5/2017). Masyarakat memohon pemerintah setempat untuk segera memperhatikan kerusakan akibat abrasi yang disebabkan pengerukan pasir pantai yang dilakukan secara ilegal sepanjang 80 meter. 

TRIBUN-MEDAN.COM, DELISERDANG - Penangkar mangrove asal Desa Regemuk, Pantai Labu, Deliserdang, Anuar alias Ucok menceritakan, pengalamannya selama menjadi aktivis lingkungan di kampungnya.

Satu di antaranya, pernah diculik sekelompok pemuda, karena ia menentang penebangan hutan mangrove.

"Kalau pengalaman saya selama peduli lingkungan sangat banyak. Pada 2006, saya pernah diculik, karena melawan perusahaan swasta. Jadi perusahaan itu membabat 18 hektare hutan mangrove demi buka usaha ternak ayam dan tambak," ujarnya saat berbincang-bincang dengan Tribun-Medan.com, Jumat (29/4/2017).

Ia menyampaikan, kala itu tidak banyak warga yang menentang penebangan hutan mangrove. Ia berjuang sendiri agar penegak hukum dan pemerintah membatalkan perambahan hutan mangrove.

Baca: Gara-gara Abrasi Akibat Pengerukan Pasir Luat, Warga Kebanjiran Setiap Air Laut Pasang

Baca: Abrasi di Pantai Labu Semakin Parah, Warga Disarankan Tanam Mangrove di Belakang Rumah

Baca: Hampir Setiap Hari Kebanjiran, Warga Pantai Labu Waswas dan Tak Bisa Tidur Nyenyak

Ia melakukan perlawanan dengan cara memberikan bukti-bukti penebangan hutan atau penggarapan lahan milik kehutanan ke organisasi peduli lingkungan. Bahkan, ia melaporkan pembabatan hutan ke Polda Sumut.

Setelah perambahan hutan mangrove jadi perbincangan dan jadi pemberitaan, katanya, 18 pemuda organisasi kepemudaan menjemputnya dari rumah.

Anuar, kemudian dibawa ke Kota Medan dan mendapat ancaman agar tidak lagi protes perambahan hutan mangrove.

Halaman
12
Editor: Arifin Al Alamudi
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help