TribunMedan/

Ngopi Sore

Lebaran Meriah, ISIS Masih Jauh

Segenap keriuhan, keramaian, dan kemeriahan Lebaran adalah kabar gembira. Penanda kita masih mencintai kebersamaan yang melahirkan kebahagiaan.

Lebaran Meriah, ISIS Masih Jauh
ANTARA FOTO/FAHRUL JAYADIPUTRA
ANTREAN kendaraan di kawasan jalur Jalan Raya Cibiru, Bandung, Jawa Barat, Kamis (22/6) malam. Kepadatan tersebut mengakibatkan kemacetan panjang hingga belasan kilometer. 

SEBENTAR lagi lebaran, dan, seperti juga pada entah sudah berapa tahun sebelumnya, kesibukan terjadi. Tengoklah ke pusat-pusat perbelanjaan. Modern maupun tradisional suasananya nyaris identik. Sama-sama sangat ramai. Saking ramainya sampai-sampai untuk sekadar bergerak pun susah.

Tentu saja, keramaian ini berbanding lurus dengan harga. Mau bagaimana lagi. Mumpung setahun sekali. Maka janganlah Anda sekalian menggerutu, apalagi sampai melontar sumpah serapah yang bisa membuat puasa hanya menyisakan lapar dan haus. Itu konyol. Terlebih-lebih jika Anda kemudian mengalamatkannya pula kepada Presiden Jokowi.

Percayalah, sekali pun Prabowo, atau Jenderal Gatot Nurmantyo yang perkasa, atau Fahri Hamzah yang cendekia, atau Habib Rizieq Shihab yang serba mulia, menjadi presiden, beliau-beliau tetap tidak akan berdaya.

Kenapa? Sebab kenaikan harga-harga di saat lebaran kedudukannya setara dan sebanding dengan hukum alam. Jangankan bahan pokok yang sembilan. Jangankan daging sapi dan daging ayam. Menjelang lebaran harga celana dalam sekali pun akan ikut terkerek.

Keramaian ini lantas menurunkan kesibukan di dapur. Lebaran adalah hari istimewa. Hari kemenangan setelah berpuasa satu bulan lamanya. Oleh sebab itu, produk dapur pun, jika memungkinkan, janganlah sampai tetap biasa-biasa saja. Apabila sehari-hari di meja makan lebih sering memajang piring mangkuk berisi ikan asin dan sayur kangkung, pada hari Lebaran bolehlah sedikit lebih seronok dan bergejolak.

Sekiranya daging sapi terlampau mahal untuk dijangkau, ya, setidak-tidaknya ayam. Entah dibikin rendang, opor, gulai, masak kecap, atau digoreng tepung saja, tak masalah. Sekutu- sekutunya bisa nasi bisa lontong, berikut sayur lodeh, sambel goreng hati kentang, serundeng, dan kerupuk.

Kalau masih ada rezeki lebih, mestinya juga ada kue-kue. Nastar dan kue salju jangan tinggal. Pula kue semprit, kue bangkit susu, dan kacang tojin. Dan, aih, kolang-kaling jangan sampai dilupa. Karena selain pada amal ibadah yang telah dikerjakan sepanjang Ramadan, yang mengubah sikap dan perilaku menjadi lebih baik, konon, di sinilah juga letak manis hari raya.

Bagi yang tidak berbelanja dan tidak memasak untuk lebaran karena harus kembali ke udik, kembali ke kampung halaman, kesibukannya tentu berbeda. Bahkan sejak jauh sebelum puasa mereka yang berencana pulang ini sudah mencari tiket. Berapa pun harganya akan dibeli. Tak jadi soal. Terpenting adalah bisa pulang bertemu sanak keluarga untuk menguatkan kembali rajutan silaturahmi, sekaligus bernostalgia.

Mudik bukan perkara wajib. Namun di Indonesia telah menjelma tradisi yang sangat penting. Begitu pentingnya sehingga berjuta-juta orang di Indonesia saban tahun melakukan perjalanan mudik. Ada yang menggunakan moda transportasi darat, baik mobil pribadi, mobil sewaan, bus, hingga sepeda motor. Bahkan ada yang naik sepeda. Benar, sepeda! Menggenjot pedal ratusan kilometer selama lebih satu pekan.

Kepadatan arus lalu lintas seringkali membuat jarak yang tidak terlalu jauh mesti ditempuh dalam waktu yang sangat lama. Beringsut semeter demi semeter dalam antrean yang panjangnya bukan kepalang. Betapa ruwet, betapa melelahkan, seringkali menjengkelkan tetapi di lain sisi sekaligus begitu menyenangkan. Jika tidak pastinya akan bikin tobat, bukan?

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help