TribunMedan/
Home »

Cetak

Baca Edisi Cetak Tribun Medan

Kutipan Sampai Rp 10 Juta, Pengusaha Bukit Hoza Bangkrut Akibat Pungli

Para pemungutan uang, umumnya pemuda setempat, biasa meminta dengan sebutan "uang rokok".

Kutipan Sampai Rp 10 Juta, Pengusaha Bukit Hoza Bangkrut Akibat Pungli
Tribun Medan/Risky Cahyadi
Pengunjung berswafoto di Puncak Hoza Desa Kampung Yaman Aek Natas, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara, Minggu (9/7). Puncak Hoza dengan berbagai spot untuk berfoto selfie menjadi destinasi favorit wisatawan untuk menikmati panorama Labuhan Batu Utara dari ketinggian.TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI 

AEK KANOPAN, TRIBUN - Premanisme disertai tindakan pungutan liar sangat memberatkan pelaku usaha di sektor pariwisata. Celakanya, kalangan pebisnis tidak kuasa menghadapi kutipan demi kutipan uang yang sangat membebani bahkan mengakibatkan kebangkrutan.

Objek wisata Puncak Hoza yang terletak di Desa Kampung Yaman, Aek Natas, Labuhan Batu Utara (Labura), destinasi melancong yang mirip Puncak Jogja di Daerah Istimewa Yogjakarta terpaksa bangkrut dan ditutup pengelolanya sejak Senin (3/7) akibat maraknya pungutan liar dan premanisme.

"Banyak kali orang datang (pemuda yang minta pungli). Saya tidak menghitung secara pasti jumlahnya. Namun pada Lebaran hari ketiga dan keempat, kemarin, pengeluaran mencapai Rp 10 juta. Pengeluaran terbesar memenuhi permintaan orang (pungli) mencapai Rp 5 juta," ujar Rori, pengelola Puncak Hoza saat berbincang-bincang, di Labura, Minggu (9/7).

Bukan hanya di kawasan Bukit Hoza pungutan liar menimpa pengusaha dan wisatawan. Berdasarkan pengamatan keluhan warga yang disampaikan ke redaksi Harian Tribun Medan/Tribun-Medan.com, di banyak lokasi wisata terjadi praktik pungutan liar disertai premanisme, seperti pemalakan.

Dua sampel tujuan favorit wisawatan yang ditelusuri wartawan Tribun Medan/Tribun-Medan.com adalah Kawah Biru Tinggi Raja di Kabupaten Simalungun dan Pantai Cemara Kembar, Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai.

Penutupan objek wisata Puncak Hoza karena pengelola tidak sanggup memenuhi permintaan pungli. Para pemungutan uang, umumnya pemuda setempat, biasa meminta dengan sebutan "uang rokok". Pada hari tertentu, terutama saat hari besar, ada belasan hingga puluhan orang mendatangi pengelola untuk meminta uang.

Pada hari libur, pengelola terpaksa mengeluarkan biaya Rp 5 juta sekadar memenuhi permintaan pemuda yang datang. Akibat tingginya pengeluaran membayar pungli itu, operasional pengelolaan Puncak Hoza terganggu.

Praktik pemalakan juga terjadi di Kawah Biru Tinggi Raja, Simalungun,serta Pantai Cemara Kembar Serdangberdagai. Besarnya uang pungli bervariasi, mulai dari Rp 5 ribu hingga ratusan ribu.

Mengenai keluhan pengelolan objek wisata Pucak Hoza, Rori menjelaskan, setiap hari manajemen mengeluarkan uang Rp 2,7 juta yang diperuntukkan menggaji pekerja serta biaya konsumsi Rp 3 juta. Biaya konsumsi meliputi uang makan dan minum serta uang rokok pekerja maupun pemuda setempat.

Wakil Ketua DPP REI Bidang Hubungan Luar Negeri Rusmin Lawin pun menyayangkan daya hambat tindakan pungutan liar dan premanisme.

Halaman
1234
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help