TribunMedan/

Ngopi Sore

Percik Darah di Jerusalem: Zionis yang Makin Bengis

Pemerintah zionis Isreal sudah mencari gara-gara di kompleks suci umat Islam ini sejak tahun 1969.

Percik Darah di Jerusalem: Zionis yang Makin Bengis
AFP PHOTO/AHMAD GHARABLI
AFP PHOTO/AHMAD GHARABLI SEJUMLAH pemuda Palestina mengangkat jenazah Mohammed Abu Ghannam yang tewas dalam bentrok dengan militer Israel di Jerusalem, 21 Juli 2017. Konflik Palestina dan Israel kembali memanas setelah pemerintah Israel memasang detektor logam di Kompleks Masjid Al- Aqsa yang diikuti larangan melaksanakan salat bagi umat muslim di bawah usia 50, menyusul terbunuhnya dua polisi Israel oleh warga Palestina, dua pekan lalu. 

BULAN Mei 2017, tanggal 27, di Rabin Square, Tel Aviv, sebanyak kurang lebih 15 ribu orang berkumpul dan menyerukan perdamaian dan kemerdekaan untuk Palestina.

Iya, Anda tidak sedang salah membaca. Orang-orang yang berkumpul di Rabin Square ini adalah warga Israel dan mereka memang mendukung pendirian negara Palestina. Mereka mengecam pemerintah zionis Israel, khususnya rezim Benjamin Netanyahu, yang melakukan tindakan- tindakan rasis, kekerasan, dan pendudukan.
Sejak tahun 1967, sejak Israel menduduki Tepi Barat dan Al-Quds, Yerusalem Timur, lebih dari 500 ribu warga Israel tinggal di lebih dari 230 permukiman yang dibangun secara ilegal di tanah Palestina.

Tentu saja aksi di Rabin Square ini langkah politik juga. Sebuah panggung dibangun, dan di sana, secara bergantian, politisi-politisi dari partai-partai oposisi berorasi. Termasuk Isaac Herzog, Ketua Partai Buruh.

Menurut Herzog, konflik yang berlarut-larut dengan Palestina hanya bisa berakhir apabila pemerintah Israel menghentikan pemaksaan pendudukan yang telah berlangsung selama 50 tahun itu. "Pemimpin Israel, Perdana Menteri Israel, harus berani melihat ke depan. Kita harus berkompromi (dengan Palestina) demi kehidupan yang lebih baik," katanya.

Ketua Partai Merezt, Zehava Galon, berbicara tak kalah keras. "Netanyahu berpikir dia tahu. Padahal dia tidak tahu apa-apa. Dia mempertahankan konflik ini. Dia tidak peduli. Dia tidak pernah mendengar keinginan kita tentang Israel dan Palestina," ujarnya.

Sekali lagi, tentu saja, ini langkah politik. Akan tetapi, tak dapat dimungkiri juga betapa di antara balon-balon berwarna hijau dan biru itu, di antara kelebatan poster-poster bertulisakan 'Two State - One Hope', di antara kibaran sejumlah bendera Israel dan Palestina, terdapat kejujuran. Betapa konflik berkepanjangan ini juga menyiksa warga Israel.

AKSI unjuk rasa warga Israel memprotes langkah-langkah politik Pemerintah Israel pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di Rabin Square, Tel Aviv, 27 Mei 2017.
AKSI unjuk rasa warga Israel memprotes langkah-langkah politik Pemerintah Israel pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di Rabin Square, Tel Aviv, 27 Mei 2017. (www.haaretz.com)

"Pemerintah yang keras kepala membuat seluruh dunia mengutuk orang-orang Israel sebagai pembunuh. Seolah-olah kita semua di negara ini bukan manusia. Kita dipandang sebagai penindas Palestina. Predator, para laknat, penista, dan pendosa yang tak tahu balas budi," kata Ayman Odeh, pengacara yang sekarang memimpin Joint List, aliansi empat partai berbasis warga Arab-Yahudi.

Enam puluh sembilan tahun kurang 13 hari sebelum aksi di Rabin Square, di tengah situasi serba genting yang menewaskan ribuan orang sejak konflik bermula di awal abad 19, sejak munculnya gerakan Zionisme (kembali ke Zion atau Tanah yang Dijanjikan Tuhan) pada 1897 dan pecahnya Perang Dunia I yang menandai keruntuhan Kekaisaran Ottoman, Israel berdiri sebagai negara.

Di hadapan 250 orang yang diundang ke Museum Tel Aviv, Ketua Yishuv (Komunitas Yahudi di Palestina), David Ben Gurion, mendeklarasikan Israel. Satu negara dalam bentuk republik namun tanpa batas wilayah. Dan ini menjadi petaka bagi Palestina, baik sebagai negara maupun sebagai bangsa.

Dalam bukunya yang menghentakkan banyak kesedihan, Dark Hope: Working for Peace in Israel and Palestine, David Shulman memaparkan sejumlah "rasa malu".

Halaman
123
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help