TribunMedan/

Ngopi Sore

Ancang-ancang Dukung Pak Jokowi, Apakah Pak Hary Tanoe Akan Tinggalkan Pak Prabowo?

Jika Anda termasuk rajin mengikuti perkembangan politik tanah air, terutama pasca Pemilu 2014, tentu tak asing pada sepak terjang Pak Hari Tanoe.

Ancang-ancang Dukung Pak Jokowi, Apakah Pak Hary Tanoe Akan Tinggalkan Pak Prabowo?
TRIBUNNEWS/HERUDIN
KETUA Umum Perindo, Hary Tanoesoedibjo 

BAGAI gelegar petir yang mengaum buas di tengah hari bolong yang tak berhujan. Seperti lesatan panah asmara menghujam ulu jantung.

Barangkali kalimat-kalimat ini terlalu lebay, tetapi apa boleh buat, saya memang tidak dapat menemukan kalimat lain yang lebih selo untuk merepresentasikan keterkejutan.

Bagaimana tidak terkejut. Nyaris tiba-tiba saja, Partai Persatuan Indonesia (Perindo) menyatakan bahwa pada Pemilu Presiden 2019 termungkinkan bagi mereka untuk mendukung Joko Widodo (Jokowi). Pernyataan ini sungguh tidak main-main lantaran disampaikan langsung oleh pendiri partai, Hary Tanoesoedibjo.

Ah, jangan-jangan kabar bohong saja? Sekadar sensasi murahan untuk memelencengkan isu kelangkaan garam dan ribut-ribut penggunaan dana haji untuk membiayai pembangunan infrastruktur.

Terus terang saya pun awalnya beranggapan demikian. Tak mungkin terjadi, pikir saya. Bahkan ketidakmungkinannya bukan lagi sebangsa 'hal yang mustahil', melainkan sudah sampai pada 'hil yang mustahal', level ketidakmungkinan tertinggi menurut almarhum Asmuni.

Pikiran ini baru tergerus setelah saya membaca kabar serupa yang disampaikan oleh media-media daring yang bergerak di bawah korporasi pimpinan Pak Hary Tanoe. Untuk jelasnya, silakan Anda buka google.com, cari, dan baca sendiri.

Setelah beberapa jam saya mulai bisa menenangkan diri dan keterkejutan tadi bergeser ke rasa geli. Betapa sekali lagi, ungkapan usang yang entah sudah berapa lama berkibar di panggung politik, mewujud nyata. Dalam politik memang tak ada musuh abadi dan kawan abadi. Satu-satunya yang bisa jadi abadi adalah kepentingan.

Oleh karena itu semestinya saya pun tak perlu merasa geli. Toh yang terjadi sudah jamak belaka. Dalam politik, saling menelikung, saling jepit dan lilit, senyum-senyum cengengesan sembari membungkuk-bungkukkan badan di depan lalu menikam dari belakang, bukan lagi perkara yang luar biasa. Sama sekali bukan hal yang mustahil, terlebih-lebih hil yang mustahal.

Semestinya begitu. Akan tetapi, saya tetap saja gagal memakluminya. Mula-mula saya terkejut dan setelahnya tertawa. Saya merasa dihadapkan pada satu materi komedi yang jenius. Komedi yang nyaris absurd lantaran kekonyolannya muncul belakangan dan tak tertebak. Kurang lebih seperti komedi-komedi garapan Rowan Atkinson, terutama dalam rupa Mr Bean.

Jika Anda termasuk rajin mengikuti perkembangan politik tanah air, paling tidak pada periode sebelum, saat dan setelah Pemilu 2014, tentu tak asing pada sepak terjang Pak Hari Tanoe. Merapat ke Hanura dan mendeklarasikan rencana bertarung dalam Pemilu Presiden. Beliau mendampingi Pak Wiranto. Deklarasi mereka sebagai Win-HT digeber jauh sebelum Pak Jokowi dan Pak Prabowo Subiyanto memilih Pak Jusuf Kalla dan Pak Hatta Rajasa menjadi tandem mereka.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help