TribunMedan/

Ngopi Sore

Neymar, Mencintai Uang atau Sepakbola

Neymar bilang dia lebih suka disamakan dengan Garrincha ketimbang Pele. Apa yang dicarinya di Paris?

Neymar, Mencintai Uang atau Sepakbola
www.thescore.com
NEYMAR 

TATKALA  Francesco Totti menepi dari Olimpico dan Steven Gerrard pergi dari Anfield untuk meneruskan riwayat perjalanannya yang belum selesai ke Amerika Serikat, reaksi yang muncul kurang lebih serupa. Derai air mata, namun di saat yang sama, orang-orang di Roma, Liverpool, juga di kota-kota lain di seluruh dunia, meneriakkan slogan-slogan kebesaran kedua klub. Kesedihan yang dirayakan dengan bangga.

Dari mana kesedihan yang absurd ini muncul? Pastinya bukan prestasi. Totti 26 tahun berseragam AS Roma dan sepanjang waktu itu hanya satu gelar juara Serie A diraih. Benar, hanya satu! Plus masing-masing dua kali juara Coppa Italia dan Supercoppa Italiana. Tak ada satu pun gelar dari kejuaraan regional Eropa.

Dalam hal ini Gerrard sedikit lebih baik. Mengabdi dalam jumlah tahun yang sama (jika dihitung dengan periode di akademi), Gerrard memenangkan satu gelar Liga Champions (2004-2005), satu gelar UEFA Cup (2000-2001), dan satu gelar Super Cup (2001).

Akan tetapi Gerrard tak pernah juara liga domestik. Paling jauh peringkat dua di musim kompetisi 2013-2014. Liverpool yang sepanjang musim mendominasi terjungkal di menit-menit akhir kompetisi, dan tragisnya, ini justru disebabkan oleh Gerrard. Pada laga kontra Chelsea, dia terpeleset, dan bola dicuri Demba Ba yang kemudian melesakkan gol.

Liverpool kalah dan gelar juara melayang ke Manchester City. Saat meninggalkan lapangan, Gerrard menangis.

"Dalam sepakbola, adalah perkara mudah menimpakan kesalahan pada orang lain. Saya tidak suka menyalahkan orang lain, namun kegagalan ini, terang adalah kesalahan saya," katanya dalam bukunya, My Story.

Kita tahu kesalahan ini tak lantas membuat Steven Gerrard bernasib sama dengan Andres Escobar yang gol bunuh dirinya mengakibatkan Kolombia tersingkir dari Piala Dunia 1994. Gerrard tidak ditembak mati seperti Escobar. Dia dimaafkan dan tetap dipuja.

Kenapa? Jamie Carragher, legenda Liverpool yang lain, dalam wawancara dengan Mirror beberapa jam setelah pengumuman pensiun Gerrard dari dunia sepakbola, mengatakan bahwa Gerrard merupakan suporter sejati Liverpool.

"Dia pernah bilang, dia lahir di Liverpool dan akan selamanya jadi suporter Liverpool. Dia mewujudkan kalimat ini di dalam dan luar lapangan."

STEVEN Gerrard
STEVEN Gerrard (www.liverpoolecho.co.uk)

Kisah Gerrard, kisah Totti, juga kisah pemain-pemain lain yang memilih bersetia, memang kerap memunculkan haru yang bahkan berbungkus heroisme. Kebalikannya adalah mereka yang dikategorikan kutu loncat, pengkhianat, dan mata duitan. Ketiganya sama-sama gawat, meski kutu loncat dan pengkhianat berada dalam level yang sedikit lebih tinggi. Terutama sekali para pengkhianat.

Halaman
123
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help