TribunMedan/

Ngopi Sore

Ketika Patung Kong Co Kwan Sing Tee Koen Berubah Jadi Pocong Raksasa

Terhadap pelanggaran administrasi oleh pihak kelenteng, jika memang benar demikian, Pemerintah Kabupaten Tuban melakukan tindakan yang lucu.

Ketika Patung Kong Co Kwan Sing Tee Koen Berubah Jadi Pocong Raksasa
ANTARA FOTO/AGUK SUDARMOJO
Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemerintah Kabupaten Tuban, Jawa Timur, dengan menggunakan alat berat "crane" menutup patung Dewa Perang dan Keadilan Khong Co Kwan Sing Tee Koen dengan kain putih di Kelenteng Kwan Sing Bio, Minggu (6/8/2017). Patung setinggi 30,4 meter itu ditutup dengan kain oleh pengurus kelenteng karena adanya penolakan dari sejumlah elemen masyarakat atas patung itu. 

ADA pemandangan baru yang sungguh aduhai di Tuban, Jawa Timur. Sebentuk bangunan ditutup kain putih berdiri menjulang. Dari kejauhan, bangunan tersebut terlihat seperti pocong raksasa. Menakutkan? Tidak sama sekali. Sebaliknya, ini sangat menggelikan.

Betapa tidak menggelikan. Mula-mula, kabar yang beredar, patung tersebut diprotes keberadaannya lantaran kelewat besar dan mengganggu ketentraman pemeluk agama lain. Entah ketenteraman macam apa yang dimaksud saya tidak paham.

Baca: VIRAL Patung Dewa Tertinggi Asia Tenggara di Tuban, Ini Fakta Sebenarnya

Apakah karena patung ini, yang terletak di dalam kompleks Kelenteng Kwan Sing Bio, maka ketenangan beribadah jadi terganggu? Sekali lagi saya memang tidak paham dan karenanya tak ingin membahasnya lebih lanjut.

Lantas ada yang teriak-teriak soal nasionalisme. Di mana letak persinggungannya? Longoklah sejenak ke media sosial. Jejaknya saya kira masih ada. Di sana disebut, ukuran patung Khong Co Kwan Sing Tee Koen yang raksasa dianggap sebagai penghinaan bagi pahlawan-pahlawan "pribumi". Bagaimana mungkin, kata mereka, patung pahlawan dari negeri Tiongkok dibuat berukuran lebih besar dari patung Jenderal Sudirman? 30 meter berbanding 12 meter. Sampai di sini, bisa ditebak, banyak pula yang mengaitpautkannya dengan komunisme.

Mari kita runut pelan-pelan. Patung yang diributi ini adalah patung Khong Co Kwan Sing Tee Koen atau Kwan Kong. Benar dia seorang panglima perang. Khong Co Kwan Sing Tee Koen hidup dan berperang pada era Dinasti Han atau Han Chao. Satu di antara dinasti dengan kekuasaan terpanjang dalam sejarah Tiongkok kuno. Terentang antara 206 Sebelum Masehi sampai 220 Masehi.

Pada waktu itu, ideologi Komunisme, tentu saja, belum lahir. Jangankan Karl Max dan Mao Ze Dong. Bapak moyang mereka pun barangkali belum lahir.

Pemeluk Konghucu (Konfucius), Khong Co Kwan Sing Tee Koen diagungkan sebagai dewa. Dia dilahirkan sebagai manusia. Kemudian, karena perilaku yang baik dan sifat-sifat kebajikan pada dirinya, Khong Co Kwan Sing Tee Koen naik derajat menjadi dewa. Di Kelenteng Kwan Sing Bio, Khong Co Kwan Sing Tee Koen merupakan dewa utama. Karenanya disebut kelenteng atau kuil Kwan Sing.

Saya membaca beberapa literatur tentang kelenteng ini. Di antaranya skripsi Abdul Qadir, mahasiswa studi Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Pada skripsi bertarikh 2008 berjudul "Klenteng Kwan Sing Bio Serta Pengaruhnya Terhadap Keberagaman Warga Tionghoa Kota Tuban", Qadir memapar secara mendalam perihal kelenteng, mulai dari awal keberadaan di tahun 1725 hingga pengaruhnya pada lingkungan sekitar di era yang lebih modern.

Dalam skripsinya, Qadir melakukan wawancara dengan empat narasumber. Seluruhnya merupakan warga asli Tuban. Artinya, warga yang telah turun-temurun menjadi warga Tuban. Pada narasumber-narasumber ini diajukan pertanyaan yang sama. Satu di antaranya, "bagaimana kontribusi kelenteng terhadap masyarakat sekitar?".

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help