TribunMedan/

Ngopi Sore

Terima Kasih, Pak Prabowo, Telah Mengingatkan Betapa Nasib Kami Memang Masih Prihatin

Tidak sedikit wartawan yang hidupnya melata. Digaji sekadarnya. Bahkan lebih rendah dari gaji buruh panggul dan buruh cuci.

Terima Kasih, Pak Prabowo, Telah Mengingatkan Betapa Nasib Kami Memang Masih Prihatin
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
KETUA Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, menunggang kuda di kediamannya di kawasan Hambalang, Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. 

KALAU mau kaya, jangan kau jadi wartawan, jadilah pedagang. Kalimat ini, saya ingat, diucapkan Rosihan Anwar, pada satu siang di Jakarta, pertengahan 2006. Saya menghadiri satu acara yang mengedepankan Rosihan sebagai pembicara.

Rosihan wartawan tiga zaman. Lahir tahun 1922 dan meninggal 2011. Seorang penulis yang sangat hebat sekaligus pencemooh yang sungguh menjengkelkan. Tetapi, saat berbicara perihal dirinya, dalam hal ini perihal profesi yang digelutinya, Rosihan melepas segala bentuk keketusan dan keangkuhan.

"Faktanya ialah sebagian wartawan mulai secara kebetulan, kemudian bertumbuh menjadi reporter dan sampai jadi editor, akhirnya merosot jadi broodschrijver, orang yang menulis untuk mendapatkan bayaran bagi keperluan hidupnya."

"Saya terpaksa menjadi kolumnis untuk sekadar memperoleh nafkah. Dan percayalah, honorarium yang dibayar oleh penerbit baik di dalam negeri maupun di luar negeri tidaklah seberapa banyak sehingga sungguh tidak berlebih-lebihan jika saya katakan kolumnis tiada lain hanyalah nama keren untuk pekerjaan yang redup, a deary job dari seorang kuli tinta."

Rosihan Anwar, pada buku Menulis dalam Air, benar-benar berbicara jujur, dan saya kira, apa yang dikemukakannya bisa dijadikan gambaran ideal tentang profesi wartawan dan bagaimana seorang wartawan menjalankan profesi.

Kalau mau kaya, jangan kau jadi wartawan, kata Rosihan. Dan memang, dia tidak kaya. Dia jadi wartawan sampai akhir hidupnya dan dia tidak kaya. Sekadar rumah dan sekadar mobil. Barangkali sepetak dua petak tanah. Bukan apa-apa dibanding kerja lebih setengah abad yang dilakoninya.

Tentu, di luar Rosihan, ada wartawan yang kaya. Bahkan ada yang jadi konglomerat, karena pada dasarnya, pers merupakan satu bidang kerja yang menjanjikan keuntungan. Terlebih-lebih di era sekarang. Era ketika jangkauan internet semakin luas dan membuka peluang bagi media massa untuk bersenyawa. Era Google, Facebook, dan Youtube menjadi tuan. Era pay per view dan pay per click.

Sebaliknya, tidak sedikit wartawan yang nasibnya melata. Lumayan jika masih ada gaji. Sejumlah perusahaan media mempekerjakan wartawan dengan gaji yang disesuaikan dengan Upah Minimum Kota (UMK) dan Upah Minimum Regional (UMR). Persis buruh pabrik. Namun lebih banyak perusahaan yang sontoloyo.

Wartawan mereka digaji sekadarnya. Di Medan, masih ada media yang menggaji wartawannya Rp 800 ribu per bulan. Ada yang Rp 500 ribu. Lebih rendah dari gaji kuli panggul dan buruh cuci. Tentu saja tanpa asuransi kesehatan apalagi tunjangan pensiun. Bahkan ada yang tidak memberikan gaji sama sekali. Hanya koran beberapa eksemplar per hari, yang lantaran ketiadaan gaji tadi, oleh wartawannya kemudian disampaikan ke narasumber sebagai semacam "tanda bukti muat".

Situasi seperti inilah yang makin ke sini makin memperburuk citra wartawan. Terutama di mata masyarakat yang awam jusnalistik. Mereka menyamaratakan seluruh wartawan. Bahwa wartawan adalah sebangsa alien yang suka datang menandak-nandak ke proyek-proyek bangunan untuk menyinyiri soal IMB. Bahwa wartawan adalah segerombolan preman yang kerap datang ke sekolah-sekolah demi cipratan dana BOS yang jumlahnya tak seberapa. Bahwa wartawan adalah sekelompok pengemis tak tahu malu yang tanpa diundang datang ke acara-acara untuk sekadar mendapatkan makan siang.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help