TribunMedan/

Citizen Reporter

Cara Mudah Menulis dengan Menjadi Diri Sendiri

Bila ingin berhasil menulis maka menulislah dengan hati. Yakni, menulis dengan penuh kesungguhan.

Cara Mudah Menulis dengan Menjadi Diri Sendiri
Ilustrasi Wikihow.com

PERNAH merasakan tulisan yang dibuat terasa garing, jelek, atau takut tidak dibaca orang? Tenang, tak perlu panik. Sebagian orang, termasuk penulis pemula juga pernah mengalaminya. Namun, setelah menyimak tip dari teteh yang satu ini, tak perlu bingung lagi.

Dalam diskusi di grup WhatsApp (WA) milik Sahabat Aksara, Rabu (16/8/2017), teteh Rindu Istiqomah, CEO write-inc.asia, mengajak anggota WA berani mengeksplor diri dalam berkarya. Kuncinya 'be your self' atau jadilah diri sendiri.

Rindu Istiqomah
Rindu Istiqomah (istimewa).

Menurutnya, bila ingin berhasil menulis maka menulislah dengan hati. Yakni, menulis dengan penuh kesungguhan.

Menulis dengan hati berarti membuat tulisan hidup, memiliki nyawa yang dapat memberikan pengaruh pada pembacanya.

Bila non-fiksi seharusnya tulisan dapat menginspirasi dengan pesan-pesan yang dimaksud. Sebaliknya, bila itu fiksi, tulisan yang dibuat dapat memainkan gelombang emosi dan membuat pembaca memahami dialog dalam tulisan yang dibuat.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Teh Rindu, sapaan wanita kelahiran Jakarta tersebut membagikan lima cara membuat tulisan hidup.

Pertama, orisinil.
Artinya tulisan dibuat dari sesuatu yang dialami atau rasakan agar memberikan ruh penting pada tulisan. Misalnya, ketika sedang sedih dan sakit hati, janganlah menulis dari kebalikan perasaan kita. Menulis itu harus menjadi diri sendiri.

Kedua, VAK singkatan dari visual, auditory, dan kinestetik.

Visual maksudnya tulis sesuatu yang dilihat. Auditory berarti tulis sesuatu yang didengar dan begitu juga dengan kinestetik. Ajak pembaca turut merasakan apa yang dilihat, dengar, dan rasakan. Biasanya ini akan berhasil sebab yang ditulis adalah apa yang dialami sendiri.

Ketiga, sudut pandang.
Hal tersebut merupakan langkah wajib agar tulisan yang dibuat tidak garing. Gunakan sudut pandang berbeda ketika ingin menulis satu objek yang sama dengan sudut pandang berbeda.

Empat, ased on true story.
Sering dijumpai karya-karya bestseller umumnya merupakan kisah nyata. Dalam hal ini, hati ikut menulis sebab tulisan yang dibuat merupakan kisah yang sudah terjadi sehingga dapat memainkan emosi.

Terakhir, anti-kaku.
Bebas menulis dengan gaya masing-masing karena menulis tak harus selalu menggunakan bahasa yang baku. Tentu dalam hal ini bergantung jenis tulisan yang dibuat.

Nah, mudah bukan? Jadi jangan takut menulis. Bila ingin menulis, menulislah. Kuncinya, tulis, tulis, dan tulis. Biarkan tulisan mengalir dan menemukan pembacanya.(*)

Reportase Rizka Amalia, Pegiat literasi di Sidoarjo, Jawa Timur /Alumnus Sastra Indonesia-Universitas Negeri Surabaya.

Editor: Abdi Tumanggor
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help