TribunMedan/

Ngopi Sore

Aung San Suu Kyi, Anda Teroris!

Di era Aung San Suu Kyi kebencian tetap saja merebak dan pembantaian demi pembantaian terus terjadi. Bahkan dengan cara-cara yang makin keji.

Aung San Suu Kyi, Anda Teroris!
AFP PHOTO/STR
PENGUNGSI Rohingya mengantre makanan di kamp pengunsian Ukhiya yang terletak tak jauh dari perbatasam Bangladesh-Myanmar, 30 Agustus 2017. Sebanyak kurang lebih 18.500 orang etnis Rohingya telah keluar dari Rakhine, Myanmar, menuju perbatasan Bangladesh, untuk mendapatkan perlindungan, namun sejauh ini mereka masih tertahan di seputaran perbatasan karena belum mendapatkan izin masuk ke Bangladesh. 

JUMAT pagi, 1 September 2017, di saat muslim seluruh dunia merayakan Iduladha dan memotong hewan kurban sebagai perwujudan rasa syukur, dari Sungai Naf melesat kabar kematian. Sungai Naf adalah batas negara Myanmar dan Bangladesh, dan dari perutnya, mengacu pada Al Jazeera, diangkat 26 jenazah pelarian etnis Rohingya. Sebelas di antaranya anak-anak.

Musibah terjadi setelah perahu yang membawa mereka menyeberang ke Bangladesh terbalik lantaran kelebihan muatan. Diperkirakan jumlah korban akan bertambah.

Baca: Duh, Banyak Cacing Hati Ditemukan di Sapi Kurban Presiden Jokowi

Sebulan belakangan, konflik yang berlarut-larut antara Pemerintah Myanmar dengan etnis Rohingya kembali memanas. Kali ini bahkan lebih dahsyat lantaran pihak pemerintah tak lagi malu-malu dan telah sepenuhnya melepaskan topeng mereka. Pemerintah Myanmar seolah-olah sudah tak lagi peduli pada sorotan dan kecaman yang dilontarkan pada mereka.

Who Will Help Myanmar's Rohingya, tulis BBC. Siapa yang akan menolong Rohingya? Boleh dikata tidak ada. Mereka saat ini tertahan di kawasan-kawasan seputaran perbatasan Bangladesh-Myanmar. Tak bisa bergerak ke mana-mana. Masuk belum mendapat izin dari Pemerintah Bangladesh, mundur ditunggu pasukan militar (dan sipil) Myanmar yang sungguh buas. Maju kena mundur kena.

Baca: Ayub Meninggal Saat Hendak Salat Jumat, Posisi Jenazahnya Sedang Sujud

BBC, dan umumnya media-media barat, menyebut mereka sebagai stateless, orang-orang tanpa negara. Terusir dari Rakhine, wilayah di mana mereka hidup dan berkembang sejak abad 17, dicopot hak-hak kewarganegaraannya, dan tak diterima di negara-negara lain. Termasuk negara tetangga dan negara yang pada dasarnya merupakan asal mereka, dan membuat mereka terpaksa pergi lebih jauh, di antaranya ke Malaysia dan Indonesia, bahkan sampai Australia.

PENGUNGSI Rohingya menyelamatkan anak melewati pagar berduri di kawasan Maungdaw, daerah perbatasan Banglades-Myanmar, 28 Agustus 2017.
PENGUNGSI Rohingya menyelamatkan anak melewati pagar berduri di kawasan Maungdaw, daerah perbatasan Banglades-Myanmar, 28 Agustus 2017. (AFP PHOTO/REHMAN ASAD)

Orang-orang etnis Rohingya diyakini merupakan bagian dari suku bangsa Indo-Aryan. Orang- orang Bengkali. Suku bangsa yang mendiami negara-negara di Asia Selatan. Terutama India, Pakistan, dan Bangladesh. Ada juga di Nepal, Srilanka, dan sebagian kecil di Maldives.

Pemerintah Myanmar (dulu Burma) sejak lama tak berkenan terhadap keberadaan Rohingya. Pengusiran, yang diikuti pembantaian, bahkan telah terjadi sejak negara ini masih menjadi koloni Inggris. Tahun 1939 tercatat sebagai pembantaian paling besar. Saat itu, sebanyak 30 ribu orang Rohingya menemui ajal.

Pengusiran dan pembantaian berlanjut saat Myanmar dikuasai junta militer. Tahun 1942, 1968, dan 1992. Dalam "Southeast Asia: Refugees in Crisis", Siegfried O. Wolf, menyebut bahwa selain faktor sosial budaya, penyebab konflik ini adalah politik. Rohingya tidak pernah berada pada arus politik pemerintah. Junta memang secara sengaja dan terus-menerus mengobarkan kebencian "warga asli" Myanmar kepada Rohingya untuk menciptakan musuh bersama.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help