TribunMedan/

Ngopi Sore

Ramai-ramai Bela Rohingya Sembari Konsisten Ngenyek Jokowi

Fadli Zon dan Fahri Hamzah, ikut menyerang. Mereka ngenyek lewat Twitter. Sejumlah politisi lain, dengan caranya sendiri, ikuT ngenyek.

Ramai-ramai Bela Rohingya Sembari Konsisten Ngenyek Jokowi
AFP PHOTO/K.M. ASAD
PENGUNGSI etnis Rohingya dari Rakhine State, Myanmar, saat melintasi kawasan perbatasan negara itu dengan Banladesh, Senin (4/9) waktu setempat. PBB mencatat 87 ribu warga etnis Rohingya mengungsi sejak pergesekan dengan Pemerintah Myanmar kembali terjadi beberapa pekan lalu. 

HARI-hari belakangan ini mata kita seolah-olah hanya tertuju ke Myanmar. Persisnya ke kawasan perbatasan negara itu dengan Bangladesh, tempat di mana ribuan orang dari etnis Rohingya, mengantre masuk. Puluhan di antaranya bernasib naas.

Orang-orang Rohingya ini terpaksa mengungsi, menyelamatkan diri, setelah perseteruan menahun dengan Pemerintah Myanmar (dulu Burma), kembali meletuskan agresi oleh pihak militer maupun kelompok sipil.

Agresi ini patut dikecam. Barangkali memang menjadi hak bagi Pemerintah Myanmar untuk tidak menganggap orang-orang etnis Rohingya sebagai warga negara yang sah. Pascabentrok dengan orang-orang pribumi Burma yang menewaskan lebih 200 orang di Rakhine State pada tahun 2012, Pemerintah Myanmar lewat pejabat perdana menteri yang berkuasa saat itu, Thein Sein, mencabut seluruh hak kewarganegaraan seluruh etnis Rohingya. Mereka resmi menjadi stateless, orang-orang tanpa kewarganegaraan, dan sejak itu pula, berbagai upaya untuk menghalau orang-orang Rohingya dari Myanmar terus dilakukan.

Akan tetapi, agresi, bagaimana pun tidak dapat dibenarkan. Terlebih-lebih agresi yang dilakukan dengan brutal dan tanpa pandang bulu. Tidak lagi tidak perempuan, bahkan orang tua dan anak-anak pun disikat habis.

SEJUMLAH pengungsi etnis Rohingya diangkut dengan truk menuju Kamp Pengungsian Kutupalong, Ukhiya, Bangladesh, kemarin.
SEJUMLAH pengungsi etnis Rohingya diangkut dengan truk menuju Kamp Pengungsian Kutupalong, Ukhiya, Bangladesh, kemarin. (AFP PHOTO/JASMIN RUMI)

Sampai di sini, saya kira tidak ada di antara kita yang tak sepakat. Apa yang terjadi di Myanmar merupakan tragedi kemanusiaan yang tidak boleh dibiarkan terus berlangsung. Terlepas dari besar atau kecilnya, sebagai anak manusia, kita harus turut berupaya. Entah itu lewat pemberian donasi, atau memberikan sumbang saran pemikiran yang dapat diteruskan oleh pihak-pihak yang lebih memiliki kompetensi untuk mewujudkannya.

Sayangnya, makin ke sini, pendapat dan pandangan terkaitpaut Rohingya makin melebar ke mana-mana. Ada yang kelewat dalam bersedih sebagaimana tidak sedikit yang amat meledak- ledak kemarahannya. Kadar yang berlebih ini, agaknya, membuat nalar dan logika jadi ikut merosot.

Misalnya, sempat mencuat isu akan ada yang menggelar aksi unjuk rasa di kawasan kompleks Candi Borobudur di Magelang. Aksi ini bukan saja salah alamat, lebih jauh juga ndablek.

Apa hubungan candi yang dibangun di era Wangsa Syailendra pada 500 masehi dengan agresi di Myanmar? Apakah karena Candi Borobudur merupakan tempat ibadah umat Buddha dan Buddha merupakan agama mayoritas di Myanmar? Apakah lantaran kelompok Buddha garis keras di Myanmar memusuhi Rohingya yang sebagian besar muslim maka Borobudur harus dikepung?

Untunglah kendablekan yang sungguh-sungguh sangat aduhai itu tak lantas berlanjut. Banyak pihak yang mengecam. Menolak rencana tersebut. Termasuk para wakil rakyat dan pemuka Islam. Polisi juga memberlakukan larangan keras.

Kemudian, tak sedikit yang memberi ultimatum pada Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi. Retno saat ini sedang berada di Yangoon, ibu kota Myanmar, untuk bertemu Aung San Suu Kyi dan Min Aung Hlaing, Panglima Angkatan Bersenjata Myanmar. Retno membawa pesan khusus Pemerintah Indonesia, yakni meminta Pemerintah Myanmar menghentikan agresi.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help