TribunMedan/

Objek Wisata

Kisah Desa Nyambu, Angker hingga Diyakini Ada Istana Tak Terlihat

“Kemungkinan kedepan wisata religi tetapi siapa yang akan memandu karena berat soalnya. Wisata religi mau bersemedi siapa mau memandu?"

Kisah Desa Nyambu, Angker hingga Diyakini Ada Istana Tak Terlihat
Antara
Desa Nyambu. (Antara) 

TRIBUN-MEDAN.com - Pengembangan desa wisata menjadi satu cara untuk mempromosikan dan meningkatkan perekonomian dari masyarakat di desa, seperti itulah gambaran desa wisata yang diceritakan oleh Direktur Yayasan Wisnu yang juga sebagai pendamping desa wisata di Desa Nyambu, Kediri, Tabanan Made Puriyati.

Perempuan paruh baya yang biasa dipanggil Denik ini menceritakan bahwa pengambangan desa wisata di Desa Nyambu tergolong unik karena dirinya menyerahkan konsep pembangunan desa kepada masyarakat desa.

Ia ingin masyarakat memetakan potensi desa yang berlandaskan pada pertanian.

Alhasil pengembangan desa wisata berbasiskan pada pertanian walaupun desa tersebut awalnya lebih dikenal dengan keangkerannya.

“Sebelumnya memang di sana (Desa Nyambu) ada 6 banjar dan memang kepercayaan mereka dis ana khususnya di Br. Carik Padang itu tak boleh pake peranda. Karena di sana ada Bet Gria (istananya orang suci yang tak terlihat kasat mata) dan itu terkenal keangkerannya,” ujar Denik dalam diskusi desa wisata di Denpasar, Jumat (8/9/2017).

Dikatakannya di Desa Nyambu memang banyak ada pengobatan dan di Br. Carik Padang sendiri di dalam Desa Nyambu di sana orang percaya bahwa tidak boleh pakai pedanda sekala (manusia).

Karena di daerah tersebut ada namanya Bet Gria dan saat nunas tirta (meminta air suci) itu hanya pemangku yang mengantarkan.

Selain itu di Desa Nyambu ada 67 pura besar, dana ada 22 mata air dan yang disungsung warga untuk pengobatan namanya pancoran sudamala, bahkan sudah banyak orang luar (wisatawan) ke sana untuk pengobatan.

“Kemungkinan kedepan wisata religi tetapi siapa yang akan memandu karena berat soalnya. Wisata religi mau bersemedi siapa mau memandu? Mau ke Bet Gria itu siapa berani memandu? Tapi memang itu menjadi daya tarik juga bahkan mereka punya kolam renang khusus monyet, dibuatkan khusus untuk monyet yang datang mandi saat pagi menjelang siang,” jelasnya.

“Satu di antara tur wisata memang melewati air itu, itu juga dijadikan daya tarik bahkan ada wisatawan asing tertarik melukat dan religi. Sebelumnya juga orang kedokteran dari RS swasta di Bali datang ke sana dan meneliti air di sana pantas dijadikan pengobatan (melukat),” ujarnya.

Halaman
123
Editor: Randy P.F Hutagaol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help