TribunMedan/

Ngopi Sore

Wakil Rakyat yang Minta Disebut 'Yang Terhormat' dan 'Yang Mulia'

Bung, surat ini tak mengandung permintaan maaf atau basa-basi semacamnya. Saya cuma ingin menyampaikan cerita tentang Wakil Rakyat, pekerjaan Anda.

Wakil Rakyat yang Minta Disebut 'Yang Terhormat' dan 'Yang Mulia'
KOMPAS.COM/RODERICK ADRIAN MOZES
SEJUMLAH anggota DPR yang baru dilantik bersitegang dalam sidang paripurna pemilihan pimpinan DPR 2014-2019, di Gedung Rapat Paripurna Nusantara II DPR-RI, Senayan, Jakarta, Rabu (1/10/2014). Sidang yang diwarnai aksi walkout ini menetapkan Setya Novanto dari Fraksi Partai Golkar sebagai Ketua DPR. 

Bung Wakil Rakyat...

Akhirnya saya menulis surat ini untuk Anda. Sebenarnya saya berencana menuliskannya pada Lebaran Idul Fitri lalu. Sekadar supaya kita bisa saling maaf-memaafkan, meski saya tahu, saya paham, betapa dalam politik kata 'maaf' adalah kata politis yang makin ke sini makin kehilangan maknanya yang hakiki. Saya lupa kenapa saya batal melakukannya.

Karena itulah, Bung, surat ini tak mengandung permintaan maaf atau basa-basi semacamnya. Saya cuma ingin menyampaikan satu cerita tentang Wakil Rakyat, pekerjaan Anda, dan hubungannya dengan perkara hormat-menghormati.

Cerita ini, Bung, bukan cerita baru dan sesungguhnya sudah hampir saya lupakan, jika saja rekan Bung yang hadir dalam Rapat Dengar Pendapat dengan KPK di Senayan, siang tadi, tidak mengingatkannya. Rekan Anda itu, Bung, meminta orang-orang KPK memanggilnya dengan sebutan 'Yang Terhormat', atau 'Yang Mulia'. Lantaran tidak menyebut demikian, menurut dia, orang-orang KPK "dialektika kebangsaannya agak enggak nampak".

Bung...

Meski isinya sama, cerita ini beredar dengan banyak judul. Di antara sekian banyak judul itu, saya memilih 'Rakyat dan Wakil Rakyat'. Tidak ada alasan yang macam-macam. Saya memilih judul ini semata-mata karena suka. Begini ceritanya.

Pada suatu hari seorang guru SD yang mengajarkan mata pelajaran baru, Mengenal Wakil Rakyat atau MWR, bertanya pada seorang muridnya yang tidak terlalu pintar. Prestasinya sedang-sedang saja. Sekadar cukup untuk tidak tinggal kelas.

Biasanya dalam mata pelajaran lain murid ini selalu kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan guru. Namun kali ini tidak. Dia justru menjawab dengan lancar sekali.

Guru : "Bupati dan Wakil Bupati, manakah yang lebih tinggi dan harus dihormati?"
Murid: "Bupati, Bu."
Guru : "Bagus! Kalau Gubernur dan Wakil Gubernur?
Murid: "Pastinya Gubernur, Bu"
Guru : "Presiden dan Wakil Presien?"
Murid: "Wah, Presiden, dong, Bu."
Guru : "Nah, kalau ini bagaimana. Rakyat dan Wakil Rakyat, manakah yang lebih tinggi dan harus dihormati?"
Murid: "Seharusnya, sih, rakyat, Bu."
Guru : "Lho, kok, pakai kata 'seharusnya'?"
Murid: "Karena sejak lama situasinya malah terbalik-balik Bu guru."
Guru : "Terbalik-balik bagaimana?"
Murid: "Rakyat yang harus menghormati Wakil Rakyat. Padahal mereka justru makin tidak terhormat."
Guru: "Kenapa makin tidak terhormat?"
Murid: "Lihat saja di televisi, Bu."
Guru: "Karena ngomong sembarangan dalam acara-acara debat kusir?"
Murid: "Karena banyak yang mendadak tajir, Bu"
Guru: "Lho, apa hubungannya?"
Murid: "Mereka tajir karena terlibat skandal dan kasus."
Guru: "Wah, kamu, kok, mendadak jadi pintar?"
Murid: "Sebenarnya tidak, Bu. Saya biasa-biasa saja, kok."
Guru: "Maksudmu bagaimana?"
Murid: "Tidak perlu menjadi pintar untuk sekadar memahami Wakil Rakyat, Bu."

Begitulah ceritanya, Bung. Saya harap Anda tidak tersinggung. Ini sekadar satu dari entah berapa banyak cerita lucu tentang Wakil Rakyat yang beredar di internet.

Halaman
1234
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help