TribunMedan/

Warga Terkejut Ada Reklamasi Sungai Ditimbuni Batu Padas

Pengecilan ruas sungai ini diduga melanggar Undang-undang Peraturan Pemerintah No 37 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS). Selain

Warga Terkejut Ada Reklamasi Sungai Ditimbuni Batu Padas
Tribun Medan/Dedy
Pengerjaan reklamasi Sungai Bahbolon perkecil ruas sungai hingga separuh. 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Dedy Kurniawan

TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR - Sejumlah alat berat dan pekerja proyek tampak menimbuni ruas aliran Sungai Bahbolon dengan bebatuan dan tanah. Kondisi ini membuat separuh ruas sungai menjadi kecil dan tidak bisa dialiri arus air di Jalan Vihara Kecamatan Siantar Selatan, Kota Pematangsiantar, Selasa (12/9/2017).

Informasi dari plank proyek yang diletak sedikit tersembunyi, di belakang gedung KOAS RS Djasamen Saragih dipublikasikan perbaikan infrastruktur pengendalian banjir dan pengamanan Sungai Bahbolon yang dikerjakan PT Nunut Karya yang memiliki sumber dana dari APBD Provinsi Sumatera Utara

Pengecilan ruas sungai ini diduga melanggar Undang-undang Peraturan Pemerintah No 37 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS). Selain itu juga diduga melanggar Undang-undmav No 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan pemgeolaan Lingkungan Hidup.

Pekerja PT Nunut Karya menimbun ruas sungai Bahbolon di Siantar Selaran
Pekerja PT Nunut Karya menimbun ruas sungai Bahbolon di Siantar Selaran (Tribun Medan / Dedy)

Baca: Ditinggal Teman ke Warnet, Mahasiswa Mikroskil Tewas di Indekos

Baca: EDAN! Gara-gara Istri Pergi Tak Tinggalkan Kunci, Suami Langsung Membakar Rumahnya

Amatan tribun-medan.com, di lokasi terlihat beberapa pekerja proyek menggunakan alat berat excavator menimbun sungai dan melakukan pengerasan fondasi ruas sengai dengan batu padas, kawat, dan tanah.

Pekerja proyek, bermarga Aritonang ditanyai sempat menghindar direkam camera dan handphone, dia mengaku dari Dinas Provinsi Sumut. Dia juga mengaku hanya mengerjakan proyek dari Dinas PU Kota Pematangsiantar dan mendapat perintah dari pihak RS Djasamen Saragih. Tak lama kemudian ia juga menelepon seseorang yang disebutnya pengawas proyek

"Kami hanya mengerjakan gambaran dari Dinas PU Siantar. Kami hanya pengawas lapangan. Gak ada kami ini melakukan penimbunan sungai. Kalau mau lebih terangnya ayok lah kita ke kantor saja," ujarnya, namun tidak dilakukan pertemuan ke kantor.

Warga setempat sekaligus anak kepala lingkungan, Hendrik diwawancarai mengaku keberatan adanya penimbunan berujung pengecilan ruas sungai. Awalnya ia tidak tahu sungai dekat rumahnya itu sudah ditimbuni sejak saban minggu.

"Terkejut aku sudah ada penimbunan itu. Jelas keberatan kali, itu penutupan sungai yang nantinya berdampak pada warga di bantaran sungai. Kalau debit air tinggi imbasnya ke warga. Kalau itu penanganan banjir ya harusnya dikeruk dan dilebarkan, ini malah sebaliknya," tukasnya pada tribun medan. (*)

Penulis: Dedy Kurniawan
Editor: Arifin Al Alamudi
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help