TribunMedan/
Home »

Bisnis

» Makro

Investasi ala Mal versus Tuan Takur, Begini Pengamatan Praktisi Pasar Modal

Berbondong-bondong orang datang melihat, dan selanjutnya, tanpa berpikir panjang melakukan pembelian atas barang-barang "diskon" yang ditawarkan.

Investasi ala Mal versus Tuan Takur, Begini Pengamatan Praktisi Pasar Modal
Kontan
Jhon Veter, Praktisi Pasar Modal 

TRIBUN-MEDAN.com - TEPAT satu minggu yang lalu penulis menghabiskan waktu bersama keluarga berjalan-jalan di sebuah mal. Dalam kesempatan tersebut ada satu hal yang menarik perhatian penulis yaitu banyaknya pajangan papan diskon di setiap sudut dan tempat yang seakan-akan menginformasikan kepada pengunjungnya, ini adalah kesempatan terakhir untuk membeli sebuah produk.

Baca: Hingga November 2016, Investor Pasar Modal Sumut Tumbuh 5323 Sub Rekening Efek

Baca: Smartphone Ini Miliki Fitur Dual OIS Pertama di Dunia. Di sini Bisa Pre Order dan Dapatkan Hadiah

Tentu saja, iming-iming tersebut berhasil. Berbondong-bondong orang datang melihat, dan selanjutnya, tanpa berpikir panjang melakukan pembelian atas barang-barang "diskon" yang ditawarkan di sana. Bahkan, penulis melihat banyak di antara mereka yang membeli lebih dari kebutuhan karena. Bisa jadi, banyak di antara pembeli berpikir bahwa saat itu merupakan waktu terakhir mendapat produk dengan harga khusus.

Tentu, kita sepakat bahwa pengalaman di atas merupakan hal yang wajar terjadi di era konsumtif. Namun demikian, bagai pinang dibelah dua, perilaku di atas rupanya juga terjadi saat seseorang hendak berinvestasi, terutama saham. Dengan berlandaskan rumor, rekomendasi broker, atau sekadar ikut-ikutan saja, seorang investor dapat membeli sembarang saham, tanpa tahu apa yang dibelinya.

Tak aneh, jika kita menemui ada investor yang baru berusaha mencari tahu tentang saham yang dibelinya, setelah membeli atau bahkan saat menanggung kerugian sangat besar. Sebuah fakta yang sangat disayangkan dan dapat dihindari jika saja mereka tidak tergoda dengan perilaku investasi ala Mal. Bagaimanakah seharusnya kita bertindak?

Bila investasi ala mal tidak memberikan keuntungan, kita harus berpikir seperti mereka yang terbukti berhasil dalam dunia investasi. Dalam hidup keseharian, kita mengenal istilah "Tuan Takur" untuk menggambarkan mereka yang memiliki harta melimpah serta hidup yang nyaman. Jika mereka telah berhasil, maka tidak salah jika kita belajar sedikit dari perilaku ala "Tuan Takur" dalam berinvestasi. Strategi ini dapat diterapkan pada beragam instrumen investasi, termasuk di bursa saham:

Baca: Tottenham Hotspur Makin Berkembang kata Toby Alderweireld

Awal dan bukan akhir Kegiatan berbelanja di mal adalah akhir dari perjalanan uang, karena kita menukarkannya dengan barang yang akan habis dikonsumsi. Hal yang berbeda dengan investasi di mana kita menukarkan uang dengan sebuah barang yang tidak habis, tetapi justru, memberikan nilai yang terus menerus bertambah. Pada bursa saham, hal itu dapat ditemui pada perusahaan yang selalu memiliki peningkatan penjualan dan laba dari tahun ke tahun secara konsisten. Pembelian saham dari perusahaan seperti inilah yang disebut sebagai investasi.

Apa yang Anda dapat . Nilai yang selalu naik tentu saja baik, tetapi bahkan seorang "Tuan Takur" memerlukan makan dan kebutuhan lain. Untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup tersebut adalah lebih bijaksana apabila Anda memiliki sebuah investasi yang juga dapat memberikan pemasukan uang dari tahun ke tahun. Di bursa saham, Anda dapat memiliki saham dari perusahaan yang secara rutin membagikan dividen. Dalam jangka panjang, dividen tersebut akan menjadi sumber pemasukan kita.

Baca: Rayuan Teuku Wisnu ke Shireen Sungkar Usai Terpaan Isu Poligami

Baca: Ternyata Ini Bagian Tubuh Chelsea Olivia yang Disukai Glenn Alinskie

Harga Berbeda dengan investasi ala mal yang selalu didorong oleh harga, pada investasi ala "Tuan Takur" harga hanya dilihat ketika kedua kriteria sebelumnya telah dipenuhi. Sedapat mungkin lakukan tawar menawar sebelum melakukan pembelian. Di bursa saham, tawar menawar dapat terjadi, hanya ketika bursa sedang mengalami koreksi.

Selanjutnya, pilihan ada di tangan khalayak pembaca, apakah akan tetap melakukan investasi ala mal, seperti kebanyakan orang, atau beralih ke gaya investasi ala "Tuan Takur" yang menguntungkan. Semoga tulisan pengisi akhir pekan Anda ini bisa membawa manfaat. Happy Investing. Penulis: Jhon Veter, Praktisi Pasar Modal.

Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help