TribunMedan/

Ngopi Sore

Catalan Merdeka, ke Mana Suarez dan Messi Pergi

Kadangkala uang bisa dikalahkan oleh harga diri. Dan inilah yang mungkin akan terjadi.

Catalan Merdeka, ke Mana Suarez dan Messi Pergi
AFP PHOTO/PIERRE-PHILIPPE MARCOU
WARGA Catalonia mengibarkan bendera 'Estelada' pada aksi yang digelar di Kota Barcelona, pada hari referendum kemerdekaan Catalonia dari Spanyol, 2 Oktober 2017. 

ADA sejumlah peristiwa yang mengiringi berlalunya September, bulan paling mencekam di Indonesia. Peristiwa pertama sebenarnya terjadi masih di bulan September. Tepatnya pada penghujung bulan namun ribut-ributnya masih berlangsung sampai sekarang --meski gaungnya tinggal samar-samar.

Apa lagi kalau bukan perihal nonton bareng film Penumpasan Pemberontakan G30S PKI. Ribut-ribut kini mengarah ke Pak Jenderal Gatot. Entah siapa memulai, muncul selentingan bahwa pada malam di mana Presiden Joko Widodo menghadiri nonton bareng film itu, Pak Jenderal sebenarnya sudah punya agenda lain. Beliau, seperti ditulis rmol.co, disebut-sebut dijadwalkan menonton petunjukan wayang berjudul "Parikesit Menjadi Pemimpin" di kawasan Museum Fatahillah.

Nah, lho, kok tidak ikut nonton bareng Pak Jokowi? Apakah nonton bareng presiden di Markas Korem 061/Suryakancana Bogor ini tidak terencana? Saya tidak tahu. Pastinya, Pak Jenderal batal nonton wayang. Beliau datang ke Bogor dan duduk di samping Jokowi dan kelihatan agak kurang bugar dan membuat seorang warganet asal Bima, Nusa Tenggara Barat, seorang pegawai negeri, menyimpulkan bahwa beliau mengantuk. Kesimpulan ini dituliskannya dan dipampangkannya di media sosial dan segera memicu kehebohan. Tulisannya tidak saja membuatnya panen caci maki. Dia kemudian juga diciduk tentara dan diinterogasi.

Soal Pak Jenderal Gatot dan warganet yang gegabah saya cukupkan sampai di sini. Toh, sekarang sudah Oktober. Isu seputar komunisme dan PKI tidak lagi terlalu seksi.

Peristiwa kedua datang dari Las Vegas. Dibanding soal Komunis dan PKI yang masih sebatas berupa kisah horor yang belum kelihatan wujudnya, tohokan peristiwa di Las Vegas lebih dahsyat. Seorang bernama Stephen Paddock, 64 tahun, dari jendela kamar hotelnya di lantai 32, menembakkan peluru senjata otomatis ke kerumunan orang yang sedang menonton konser Route 91 Harvest Festival. Sebanyak 58 orang tewas dan 200 lainnya mengalami luka-luka.

TIGA sosok tubuh yang disinyalir merupakan penonton konser Route 91 Harvest country music festival, terkapar setelah diterjang peluru yang ditembakkan secara membabi buta oleh seorang laki-laki bernama Stephen Paddock dari kamar hotel saat berlangsungnya konser di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat, kemarin.
TIGA sosok tubuh yang disinyalir merupakan penonton konser Route 91 Harvest country music festival, terkapar setelah diterjang peluru yang ditembakkan secara membabi buta oleh seorang laki-laki bernama Stephen Paddock dari kamar hotel saat berlangsungnya konser di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat, kemarin. (AFP PHOTO/GETTY IMAGES NORTH AMERICA/DAVID BECKER)

Serangan ini tercatat sebagai serangan dengan senjata otomatis paling mematikan dalam sejarah Amerika Serikat. Namun peristiwa ini tak sampai menimbulkan ribut-ribut di Indonesia. Pasalnya serangan, setidaknya sampai sejauh ini, disebut tak berkaitpaut dengan terorisme sehingga dengan demikian tak akan bersinggungan dengan Islam.

Sampai berlalu lebih 48 jam, belum ada satu orang pun warganet Indonesia yang memasang bendera Amerika pada profilnya. Belum ada yang menuliskan tagar (#) Save Las Vegas. Tidak ada polemik apa-apa. Tidak ada pro dan kontra, tak ada debat, antara kaum bumi bulat dan bumi datar. Warganet Indonesia anteng saja, menonton dari jauh wajah Paman Donald yang makin muram dan cemberut penuh kerut.

Peristiwa ketiga adalah kabar membaiknya kondisi kesehatan Pak Setya Novanto (Setnov), politisi ulung kita. Pascadikabarkan mengalami penyumbatan pada jantung dan beberapa penyakit yang semuanya kedengaran mengerikan, Pak Setnov mengalami kemajuan kesehatan yang ekstrem. Dalam tempo hanya 2 x 24 jam sejak hakim memutuskan dia memenangkan gugatan praperadilan atas status tersangka yang ditetapkan KPK, Pak Setnov meninggalkan dari Rumah Sakit Premier Jatinegara.

Lucu sekaligus ironis. Siasat yang kelewat kampungan namun ternyata efektif. Untuk kali kesekian, Pak Setnov menunjukkan betapa dia sangat piawai berkelit. Namun reputasi ini pulalah yang justru membuat kesuksesan siasatnya tak menarik untuk dikupas. Setnov lolos dari jerat hukum itu berita biasa.

Karenanya, saya lebih tertarik pada apa yang sedang terjadi di Catalonia. Soal referendum? Itu garis besarnya. Catalonia menggelar referendum dan sebanyak 93 persen warganya sepakat merdeka atau memisahkan diri dari Spanyol untuk membentuk negara baru berbentuk republik.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help