TribunMedan/

Anak Pertama Menderita Hidrosefalus, Anak Kedua Terpeleset ke Dandang Mi Sop Mendidih

Dera Mutia, bayu berusia 1,9 tahun terpleset ke dalam dandang kuah mi sop di tempat ibunya berjualan miso.

Anak Pertama Menderita Hidrosefalus, Anak Kedua Terpeleset ke Dandang Mi Sop Mendidih
tribun medan/dedy
Dera Mutia, bayi berusia 1,9 tahun dibalut perban di RS Tiara, usai terjatuh ke dalam dandang kuah miso panas 

TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR - Dera Mutia, bayu berusia 1,9 tahun yang merupakan anak kedua dari pasangan Hariadi dan Desy Yusnita Damanik terpleset ke dalam dandang kuah mi sop di tempat ibunya berjualan miso Jalan Sadom, Kelurahan Bantan, Siantar Barat, Rabu (3/10).

Akibatnya,  kulit Dera melepuh dan mengelupak memerah hingga membuatnya menangis meronta kesakitan. Akibat kejadian tersebut, Dera lantas dilarikan ke puskesmas terdekat lalu dirujuk ke rumah Sakit Tentara. Namun tidak diterima lantaran pihak rumah Sakit Tentara beralasan rumah sakit tidak ada kamar kosong. 

Ayah Dera Mutia, Hariadi warga Jalan Sadom Kelurahan Bantan, Kecamatan Siantar Barat menceritakan kepanikannya saat kejadian pada Rabu sore (3/10). Saat itu dirinya sedang berjualan sate keliling di tengah Kota Siantar. Dirinya mendapat kabar dari istri kalau anaknya tersiram kuah mi sop panas dan tak tahu mau dibawa ke mana.

"Pas keajdian dapat kabar anakku kena kuah miso panas. Sampai masuk ke dalam dandang miso panas dekat kompor. Dia main mundur-mundur rupanya terpleset ke dalam dandang miso. Sempat dibawa ke RS Tentara tapi katanya gak ada kamar. Panik kali aku, abis itu baru dirujuk ke RS Tiara," kata Hariadi di depan ruang Kasuari V Rumah Sakit Tiara, Kamis (4/10). 

Sesampai,  di RS Tiara, Dera Mutia sudah diberi perawatan intensif. Di sekujur tubuh mungilnya sudah terbalut kain perban putih. Bayi itu beberapa menangis meringis kesakitan. 

"Ayah... Ayah...," kata terucap dari bibir Dera yang dipangku ibunya. 

Tak cukup disini, Hariadi selanjutnya dihadapkan masalah biaya rumah sakit. Ternyata RS Tiara tidak masuk kerja sama dengan BPJS. Gajinya sebagai pedagang sate keliling membuatnya terpksa mutar otak demi kesembuhan putrinya. 

Baca: Anak Balita Ini Kok Sudah Megang Pistol? Tembak Dua Bocah Berumur Tiga Tahun

"Panik kali. Ini biayanya awalnya gak masuk BPJS di RS Tiara. Terpaksa aku ngurus surat miskin dulu ke lurah dan Dinsos. Makanya ini sudah dapat surat rujuk BPJS dari RS Umum," ujarnya.

"Aku baru bisa bayar panjar Rp. 1 juta. Ini tagihanku sudah Rp 3.760.000 bang. Gak tahu gimana bayarnya udah pinjam sana sini. Ini anakku belum bisa dibawa rujuk ke RS Umum karena masih menunggak,"  imbuhnya. 

Kisah Dera ini menambah kesulitan Hariadi dan sang istri. Sebelumnya mereka juga harus merawat anak pertama mereka yang mengalami hidrosefalus. Hariadi pun berharap Pemko Siantar dan masyarakat lainnya mau berempati mengulurkan tangan.(*)

Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help