TribunMedan/

Sempat Dijuluki 'Penerus Habibie', Ini 6 Kebohongan Dwi Hartanto

Dwi memberikan klarifikasi dan meminta maaf yang diunggah di situs Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Delft.

Sempat Dijuluki 'Penerus Habibie', Ini 6 Kebohongan Dwi Hartanto
internet
Dwi Hartanto 

TRIBUN-MEDAN.com - Akhir tahun 2016 silam, tepatnya 17-24 Desember 2016, lebih dari 40 orang peneliti diaspora yang mengajar dan meneliti di berbagai negera datang ke acara Visiting World Class Professor.

Acara itu diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi bekerjasama dengan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional.

Salah satu peserta adalah Dwi Hartanto. Ia juga disebut sebagai “Penerus Habibie”, Presiden Ke-3 Indonesia dan tokoh besar dalam bidang teknologi. Tapi ternyata semua yang dikatakan Dwi dalam berbagai kesempatan cuma klaim.

Melalui klarifikasi dan permohonan maaf yang diunggah di situs Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Delft, Dwi memberikan klarifikasi soal sejumlah klaimnya.

Dwi menuliskan dokumen panjang lebar berisi klarifikasinya. Berikut 6 kebohongan itu:

1. Bukan lulusan Tokyo Institute of Technology Jepang.

Pertama dia meluruskan latar belakang akademiknya. Dia adalah lulusan S1 dari Institut Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta, Fakultas Teknologi Industri, Program Teknik Informatika, lulus pada 15 November 2005. Jadi, bukan lulusan Tokyo Institute of Technology Jepang.

Dia kemudian mengambil program S2 di TU Delft, Faculty of Electrical Engineering, Mathematics, and Computer Science, dengan tesis Reliable Ground Segment Data Handling System for Delfi-n3Xt Satellite Mission. Memang ini beririsan dengan sistem satelit, tapi khusus mengenai satellite data telemetri dan ground segment network platform-nya.

2. Bukan assistant professor di TU Delft

Dwi saat ini sedang menjalani program S3 di grup riset Interactive Intelligence, Departement of Intelligent Systems, di fakultas yang sama di Delft.

“Dengan demikian, posisi saya yang benar adalah seorang mahasiswa doktoral di TU Delft,” kata Dwi. “Informasi mengenai posisi saya sebagai post-doctoral apalagi assistant professor di TU Delft adalah tidak benar.”

Halaman
1234
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help