TribunMedan/

Media Sosial

Berkat Gubernur Baru, Istilah Pribumi Jadi Viral dan Terkenal! Siapakah Pribumi Indonesia?

Menurut Rama Zoetmulder “prih” arti pokoknya adalah usaha keras, pengerahan tenaga, perhatian besar

Berkat Gubernur Baru, Istilah Pribumi Jadi Viral dan Terkenal! Siapakah Pribumi Indonesia?
Pepnews.id

MENDADAK istilah "pribumi" menjadi viral setelah Gubernur Anies Baswedan mengatakan dalam pidato pelantikannya, "Kini saatnya Pribumi menjadi tuan rumah!"

Nyaris semua kata yang diimbuhi tambahan kata “pri” selalu hilang makna dari bentuk aslinya, dan selalu ditafsirkan dengan seenak-enaknya. Kata “pri” sendiri bila dilihat dari bahasa Jawa Kuno (saya tidak mau menyebutnya sebagai Sansekerta, karena acuannya nanti jadi India), berasal dari kata “prih”.

Menurut Rama Zoetmulder “prih” arti pokoknya adalah usaha keras, pengerahan tenaga, perhatian besar. Kata “prih” ini kemudian melahirkan kata “aprih”, lalu jadi “amrih” dan terakhir jadi “pamrih”, yang arti sebenarnya tetap sama.

Pamrih sendiri justru sering disalah artikan negatif, karena dianggap sebagai seolah memiliki agenda tersembunyi, keinginan untuk mendapat imbal balik. Padahal hidup sendiri sejatinya ya “pamrih”, harus ada imbal baliknya.

Sayangnya, kemudian pamrih justru dibelokkan menjadi suatu bentuk kata sifat yang membuat seseorang tampak kurang ikhlas, penuh itungan, dan seterusnya.

Ini tampak sekali dalam peribahasa Jawa yang cukup populer: sepi ing pamrih, rame ing gawe. Sebenarnya asal usul peribahasa ini awalnya hanya untuk menunjukkan keguyuban dalam gotong royong atau kerja bakti. Tapi akhirnya ditarik kemana-mana. Super ngawur!

Pada akhirnya, kata “pri” sering digunakan untuk menggantikan kata “pro” yang dianggap berasal dari Barat. Sehingga pada suatu kurun, orang Jawa sangat suka memberi nama anaknya dengan kata-kata yang menggunakan awalan kata pri: seperti Prihatin (kekuatan hati), Pribadi (kekuatan diri), Prihatmaka (kekuatan jiwa),dan seterusnya.

Nah dari sinilah muncul kota kata yang paling ngawur, pada konteks pribumi. Istilah ini tidak dikenal sama sekali, hingga Indonesia merdeka. Bahkan dalam bahasa aslinga Jawa, tidak pernah ada. Pribumi mulanya merupakan pennerjemahan bebas dari kata “inlanders”. Ini istilah usang bukan saja politis, tetapi juga sangat menghinakan yang digunakan oleh pemerintah kolonial.

Inlanders adalah pembagian secara statistik kelompok penduduk di masa Hindia Belanda, di luar Kelompok Eropa dan Timur Asing, dan ia diposisikan pada strata yang paling bawah. Sehingga jargon yang paling nyata. Muncul sebagai peringatan di banyak klub societeit, restoran bergengsi, pemandian umum, dan lain-lain yang konon di depannya tertera tulisan: Verboden voor Honden en Inlander! Anjing dan Inlanders Dilarang Masuk!

Coba lihat, bagaimana para kolonialis itu menghinakan, bahkan anjing saja dianggap lebih penting.

Halaman
12
Editor: Abdi Tumanggor
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help