TribunMedan/
Home »

Cetak

Baca Edisi Cetak Tribun Medan

Mafia Ambulans Bebani Kematian Pasien, Sopir Wajib Setor Rp 1,75 Juta ke Rumah Sakit

Manajemen rumah sakit negeri tidak mengelola kereta jenazah secara baik. Kesempatan ini dimanfaatkan perusahaan swasta.

Mafia Ambulans Bebani Kematian Pasien, Sopir Wajib Setor Rp 1,75 Juta ke Rumah Sakit
Tribun Medan/M Daniel Effendi Siregar
Satu unit ambulan yang dimiliki Pemprov Sumut yang berstandar Kementrian Kesehatan terparkir di kantor UPT Pelayanan Ambulan dan Pengaduan Masyarakat, Pemprov Sumut, Medan, Sabtu (4/11). Ambulan tersebut memiliki kelengkapan alat ICU, berfungsi meningkatkan layanan kesehatan masyarakat khususnya untuk keadaan darurat. 

MEDAN, TRIBUN - Kasus kematian Evlyn Sitanggang, pasien gawat-darurat akibat kecelakaan lalu-lintas di Tapanuli Utara, menghebohkan jagad maya. Ia meninggal di dalam mobil ambulans saat hendak dirujuk dari RSUD Tarutung ke RSUP Adam Malik, Medan.

Masalah sepele menjadi pemicu terlambatnya pertolongan intensif sehingga pasien meninggal, yakni ban rusak-kempes, dan ambulans tidak memiliki ban serap. 

Atas kejadian itu, lalu muncul pertanyaan bagaimana sebenarnya pengelolaan mobil kereja jenazah?

Harian Tribun Medan/online Tribun-Medan.com menelusuri keberadaan dan pengelolaan ambulans di beberapa rumah sakit di Kota Medan, seperti RSUP Adam Malik, RSUD Pirngadi dan beberapa Puskesmas. Kesimpulannya, mobil ambulan jauh dari standar internasional.

Permasalahan konkretnya, manajemen rumah sakit negeri tidak mengelola kereta jenazah secara baik.

Kesempatan ini dimanfaatkan perusahaan swasta, sengaja menyediakan armada ambulans yang ditempatkan ngetem di rumah sakit negeri menunggu pasien meninggal, atau penyewa.

"Tidak semua ambulans ini milik rumah sakit. Ini ada yang milik swasta. Kalau ini punya KSO, dikontrakan ke Adam Malik, dari dulu, Tahun 1995, pihak swasta yang bisa masuk ke sini cuma KSO," ujar sopir ambulans saat berbincang dengan Tribun Medan di RSUP Adam Malik.

Sekumpulan sopir ini bersedia mengungkap jatidirinya, namun dengan alasan kenyamanan yang bersangkutan, Tribun Medan sengaja menutupinya.

Sopir itu memaparkan jumlah sopir ambulans swasta kurang-lebih 50 orang, bekerja secara bergilir atau shif-shifan. Sopir ambulans ini mayoritas warga yang tinggal di sekitar RSUP Adam Malik. Mobil ambulans swasta yang beroperasi di RSUP Adam Malik berjumlah 30 unit, yang dimiliki tiga orang tauke.

Setiap unit mobil dipungut bayaran. Setiap bulan wajib menyetorkan uang Rp 1,75 juta per unit kendaraan kepada pihak rumah sakit, sebagai jasa sewa lapak di RSUD Adam Malik setiap bulannya.

Jasa Raharja dan Personel Satlantas Polres Taput melayat ke rumah Evelyn, sekaligus memberikan jaminan kematian akibat kecelakaan lalu lintas.
Jasa Raharja dan Personel Satlantas Polres Taput melayat ke rumah Evelyn, sekaligus memberikan jaminan kematian akibat kecelakaan lalu lintas. 
Halaman
1234
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help