TribunMedan/
Home »

Cetak

Edisi Cetak Tribun Medan

Parmalim Masuk KTP, Ini yang Dilakukan Ulupunguan usai Dengar Putusan MK

Ulupunguan (Pimpinan Cabang) Parmalim Kota Medan Opung Simatimun Simanjuntak berterima kepada Tuhan

Parmalim Masuk KTP, Ini yang Dilakukan Ulupunguan usai Dengar Putusan MK
KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO
ilustrasi KTP 

 TRIBUN-MEDAN.COM -Ulupunguan (Pimpinan Cabang) Parmalim Kota Medan Opung Simatimun Simanjuntak berterima kepada Tuhan, karena Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan gugatan para penghayat kepercayaan lokal.

Majelis Hakim MK menyatakan, status penghayat kepercayaan dapat dicantumkam dalam kolom agama di kartu keluarga dan kartu tanda penduduk elektronik tanpa perlu merinci aliran kepercayaan yang dianut.

"Aku mendengar cerita kawan-kawan saat berkomunikasi di WhastApp. Mereka senang MK mengabulkan keinginan kami. Waktu itu, aku di rumah sehingga suruh orang rumah (istri) untuk masak telur ayam kampung," ujarnya seusai menjalankan ibadah Marari Sabtu di Istana Parmalim, Jalan Air Bersih Ujung, Medan.

Ia menyampaikan, saat ini kegembiraan penghayat kepercayaan Parmalim sama dengan ketika disahkannya Undang-Undang Nomor 23/2006 tentang Administrasi Kependudukan. Dahulu, katanya, mereka tidak membuat syukuran, hanya makan telur ayam kampung.

"Dahulu pada 2006 kami pun enggak membuat syukuran, sekarang juga serupa. Kami hanya makan telur ayam kampung sebiji. Kemarin, aku makan telur ayam kampung sembari berucap terima kasih kepada Tuhan. Mudah-mudahan keputusan MK ini bisa menjadi jalan terang," katanya.

Sebelumnya, pada saat ibadah Marari Sabtu di Istana Parmalim, Jalan Air Bersih Ujung, ia meminta umatnya tidak memperlihatkan kegembiraan yang berlebihan. Seluruh umat harus bersabar dan mengikuti aturan yang ditetapkan pemerintah.

Ratusan penghayat keyakinan Parmalim mengikuti ibadah tersebut secara khusyuk. Mereka duduk mendengarkan ceramah, yang menggunakan bahasa Batak. Kala itu, Opung Simatimun Simanjuntak meminta umatnya untuk mengikuti perkembangan di Indonesia.

"Harapan kami maunya tidak ada lagi diskriminasi. Tiga hari lalu, waktu makan telur ayam kampung, aku bilang juga sama istri untuk sabar. Keputusan ini, merupakan titik terang, mudah-mudahan anak-anak kita nanti enggak susah kayak kawan-kawannya sebelum keputusan ini," ujarnya.

Menurutnya, penghayat Parmalim tidak pernah banyak menuntut kepada pemerintah. Apalagi, mereka tidak punya relasi kepada pejabat publik, sehingga tidak akan melawan kebijakan pemerintah.

"Kami tetap yakin kepada pemerintah sebagai raja di negara ini, sehingga tidak mungkin mengabaikan warga negaranya sendiri," ujarnya. Parmalim merupakan satu di antaranya ratusan penghayat kepercayaan lokal di Indonesia.

Selama ini, penganut aliran kepercayaan dari Tanah Batak tersebut, banyak pindah jadi penganut agama yang diakui pemerintah. Pemerintah Indonesia mengakui enam agama, Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu.

Berdasar data yang dikeluarkan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata pada 2003, penghayat kepercayaan di Indonesia mencapai 245 kelompok. Namun, data terbaru yang dikeluarkan Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, jumlah penghayat kepercayan menurun. Penghayat kepercayaan hanya berkisar 187 kelompok, (Kompas.com, Kamis (9/11).

Adapun, kelompok penghayat kepercayaan terbanyak berada di Jawa Tengah, yang mencapai 53 kelompok. Apa yang dianjurkan Pemerintah  untuk kelompok penghayat kepercayaan ini? Baca selengkapnya di harian Tribun Medan.

Editor: Silfa Humairah
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help