TribunMedan/

Isu Sara

Korban Saracen Tidak Tahu Data KTP, Paspor dan BPJS Dimanipulasi Tersangka

"Sebagian sudah kita lakukan pemeriksaan. Yang kita periksa korban tidak mengaku tahu, karena dia (Jasriadi) kan ambil tanpa izin,"

Korban Saracen Tidak Tahu Data KTP, Paspor dan BPJS Dimanipulasi Tersangka
Repro/Kompas TV
Tiga tersangka anggota kelompok Saracen, penyedia jasa penyebar ujaran kebencian atau hate speech dan hoax untuk menyerang suatu kelompok tertentu, yakni (dari kiri) JAS alias Jasriadi (32), ketua sindikat Saracen, Muhammad Faizal Tonong, pemilik akun Faizal Muhammad Tonong atau Bang Izal (43), ketua bidang media informasi, dan Sri Rahayu Ningsih (32), koordinator grup Saracen wilayah Jawa Barat. Jasriadi ditangkap polisi di Pekanbaru, Riau, Muhammad Faizal Tonong ditangkap di Koja, Jakarta Utara, pada 20 Juli 2017, sedangkan Sri Rahayu Ningsih ditangkap di Cianjur, Jawa Barat, pada 5 Agustus 2017 lalu 

TRIBUN-MEDAN.COM - Penyidik dari Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menemukan tindak pidana baru yang dilakukan oleh pimpinan Saracen, Jasriadi.

Tindak pidana tersebut adalah pencurian serta manipulasi data identitas.

Data tersebut digunakan Jasriadi untuk lolos dari verifikasi akun Facebook.

Kasubdit I Direktorat Tindak Pidana Siber, Kombes Irwan Anwar, mengungkapkan bahwa banyak data identitas yang digunakan oleh Jasriadi.

"SIM 30, KTP sampai 40. Ada paspor, KTP, SIM, BPJS, ijazah, jumlahnya puluhan," ujar Irwan kepada wartawan di Kantor Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Jatibaru, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (14/11/2017).

Namun, Irwan mengungkapkan bahwa dari puluhan korban, tidak satu pun yang mengetahui bahwa data identitas pribadinya dicatut oleh Jasriadi.

Baca: Wanita yang Diarak Hingga Ditelanjangi Ternyata Anak Yatim Piatu, Hidup Sebatangkara

Hal itu terungkap setelah para korban diperiksa oleh penyidik.

"Sebagian sudah kita lakukan pemeriksaan. Yang kita periksa korban tidak mengaku tahu, karena dia (Jasriadi) kan ambil tanpa izin," tambah Irwan.

Meski membeberkan mengenai perbuatan Jasriadi, namun Irwan tidak menjelaskan mengenai cara pimpinan Saracen tersebut mendapatkan identitas milik orang lain.

Seperti diketahui, Facebook mengeluarkan kebijakan untuk menyertakan foto kartu identitas berupa paspor, SIM, kartu tanda identitas (KTP), kartu anggota militer, hingga tanda pengenal administrasi imigrasi yang bertandatangan.

Jasriadi mencoba mengakali kebijakan Facebook tersebut dengan menggunakan data identitas dari orang lain.

Karena perbuatannya ini Jasriadi disangkakan melanggar UU ITE pasal 30 (tentang akses ilegal), Pasal 32 (tentang gangguan terhadap informasi) dan Pasal 35 (tentang pemalsuan informasi)(*)

Editor: Salomo Tarigan
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help