TribunMedan/

Ngopi Sore

Setya Novanto Idola Kita

Perkara melepaskan diri dari jerat hukum, Pak Setnov memang tidak punya lawan seimbang.

Setya Novanto Idola Kita
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
KETUA DPR RI, Setya Novanto 

TEPAT pada pergantian hari, dari Rabu ke Kamis, penanggalan 15 ke 16 November 2017, saya menyingkirkan Jhony Iskandar dari peringkat teratas daftar idola saya.

Semestinya ini perkara sulit. Lelaki berkacamata lucu yang mahir menyuarakan bunyi-bunyian dengan cara meniup sisir ini selama bertahun-tahun telah menjadi idola terbesar saya, melulu karena saya menganggap lagunya, 'Bukan Pengemis Cinta', sebagai lagu paling jantan yang pernah diciptakan manusia.

Namun peristiwa pada Rabu malam hingga Kamis dinihari itu membuat saya merasa tak perlu menimbang-nimbang lagi untuk menyingkirkan Jhonny Iskandar dan menggantinya dengan Setya Novanto.

Ketua DPR RI dan Ketua Umum Partai Golkar itu? Iya, siapa lagi. Pak Setnov, akronim populernya di media, melakukan apa yang Jhonny Iskandar tidak bisa lakukan. Beliau menghilang.

Menghilang bagaimana? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), menghilang bermakna 'melenyapkan diri'; 'menjadi tidak kelihatan lagi'; atau 'tidak memperlihatkan diri lagi'.

Malam hingga dinihari itu, Pak Setnov didatangi orang-orang dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mereka datang ke kediamannya, bermaksud melakukan jemput paksa. Penjemputan ini, setidaknya berangkat dari keterangan pihak KPK, dilakukan lantaran Pak Setnov dinilai tidak kooperatif. Mangkir beberapa kali dari panggilan terkait kasus korupsi KTP- el yang diduga melibatkannya, baik dalam status sebagai saksi maupun tersangka.

Orang-orang KPK datang bersama puluhan polisi. Sebagian polisi membawa senjata laras panjang. Di depan rumah Pak Setnov, mereka langsung membentuk barisan. Begitu rapat sehingga mustahil untuk dilewati. Di antara polisi-polisi ini juga ada yang berjaga-jaga di bagian belakang rumah. Beberapa, ikut masuk ke dalam.

Saat itu, seperti saya, barangkali banyak orang yang juga percaya bahwa Pak Setnov kali ini tidak akan lolos. Dia pasti akan terjerat. Akan ditangkap, lalu diadili, mungkin kemudian dipenjarakan. Dia tidak akan bisa mengulang keberhasilan-keberhasilannya terdahulu.

Perkara melepaskan diri dari jerat hukum, saya kira, Pak Setnov tidak punya lawan seimbang. Dunia mengenal David Copperfield dan Harry Houdini yang piawai meloloskan diri dari intaian maut. Mereka bisa selamat keluar dari peti mati yang dibenamkan di balik timbunan pasir, dicemplungkan ke akuarium raksasa, digantung dengan bantuan alat berat.

Namun di hadapan Pak Setnov, aksi-aksi ini jadi tak berarti. Jadi recehan. Sebab yang dilakukan Copperfield dan Houdini sekadar upaya meloloskan diri ecek-ecek. Walau berisiko, mereka sebenarnya hanya melakukan trik yang sebelumnya dipersiapkan dengan cermat oleh kru-kru yang andal dan profesional. Trik yang telah dilatih berkali-kali.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help