TribunMedan/

Gajah Ini Bakal Jadi Ikon Saat Anda Sambangi Wisata Satwa dekat Danau Toba

Hewan mamalia besar gajah nan jinak bakalan menjadi bagian destinasi wisata Kawasan Strategis Nasional Danau Toba

Gajah Ini Bakal Jadi Ikon Saat Anda Sambangi Wisata Satwa dekat Danau Toba
Tribun Medan/Dedy
Empat gajah jinak saat beradaptasi di kawasan konservasi Aek Nauli, Kabupaten Simalungun, Kamis (7/12/2017) 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Dedy Kurniawan

TRIBUN-MEDAN.com- Hewan mamalia besar gajah nan jinak bakalan menjadi bagian destinasi wisata Kawasan Strategis Nasional Danau Toba.

Empat gajah saat ini mulai beradaptasi di kawasan konservasi Aek Nauli, Kabupaten Simalungun.

Gajah-gajah ini nantinya akan hidup di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli.

Aek Nauli Elephant Conservation ini diresmikan kolaborasi antara Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumatera Utara dan Balai Litbang LHK Aek Nauli Veterinary Society for Sumatran Wildlife Conservation (Vesswic), Kamis (7/12/2017).

Amatan tribun-medan.com, ada empat gajah sedang asik makan, ditunggangi oleh pawangnya masing-masing. Gajah-gajah ini hidup di kawasan hutan pinus juga kawasan perairan yang dekat menuju Danau Toba.

Empat gajah jinak saat beradaptasi di kawasan konservasi Aek Nauli, Kabupaten Simalungun, Kamis (7/12/2017)
Empat gajah jinak saat beradaptasi di kawasan konservasi Aek Nauli, Kabupaten Simalungun, Kamis (7/12/2017) (Tribun Medan/Dedy)

Baca: Habitatnya Terganggu, Kawanan Gajah Mengamuk Masuk ke Rumah Warga Untuk Cari Makan

Pawang gajah, Sulistiono mengatakan, saat ini pihaknya memelihara empat gajah yang didatangkan dari luar Simalungun. Keempat gajah sudah diberi nama dengan usia yang beragam.

"Ada empat gajah saat ini total semuanya, yang paling besar dan tua namanya Siti Zubaidah Betina usia sekitar 37 tahun asal Palembang, terus ada Luis Vigo Jantan (11) asal Sikampak

Vini Alvionita Betina (30) asal Sosa Ester Juwita Betina (36) asal Palembang," jelas Suliationo.

Kata Sulistiono, empat gajah ini sudah mulai beradaptasi di hutsn Simalungun sejak tangga 17 September 2017 silam. Sejauh ini tidak ada kendala habitat, karena mengingat gajah merupakan hewan herbivora yang dapat ditemui di berbagai habitat, seperti sabana, hutan, gurun, dan rawa-rawa.

Di konservasi Aek Nauli nantinya juga akan dikembangkan ekosistem satwa lainnya. Sata ini sudah ada ekosistem.

Empat gajah jinak saat beradaptasi di kawasan konservasi Aek Nauli, Kabupaten Simalungun, Kamis (7/12/2017)
Empat gajah jinak saat beradaptasi di kawasan konservasi Aek Nauli, Kabupaten Simalungun, Kamis (7/12/2017) (Tribun Medan/Dedy)

(Dyk/tribun-medan.com)

Penulis: Dedy Kurniawan
Editor: Silfa Humairah
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help