Edisi Cetak Tribun Medan

Kapal Wira Glory  Berdarah, Penumpang Kalap Tikam Masinis dan Penumpang Lain

Ratusan penumpang Kapal Wira Glory yang melayani penyeberangan dari Kota Sibolga menuju Gunung Sitoli

Kapal Wira Glory  Berdarah, Penumpang Kalap Tikam Masinis dan Penumpang Lain
facebook
Korban pembunuh di atas kapal KM Wira Gloria Kamis (20/12/2017) menewaskan tiga orang 

Dari kejauhan, beberapa petugas berupaya menenangkan pelaku pembunuhan, mereka menggerakan tangan dan kepala terlihat ada proses berdialog. Tapi, pria paruh baya itu berulangkali mengarahkan pisau ke petugas.

Tidak lama setelah tongkat besi ditarik petugas, kata dia, terdengar beberapa kali suara letupan senjata api dari jarak dekat. Letusan itu membuat penumpang, terutama perempuan makin panik. Mereka berteriak histeris, ada pula hanya berdoa pelan memanggil nama Tuhan. Setelah itu, terdengar suara petugas yang meminta penumpang tenang karena pelaku meninggal dunia.

"Usai mendengar tembakan itu, hampir seluruh penumpang disarankan untuk tenang. Darah segar telihat berceceran di lokasi. Beberapa orang menutup gunakan kain maupun tikar yang ringan. Saya sempat turun untuk melihat keadaan," kata Efen.

"Secara mendetail apa saja yang disampaikan petugas saat negosiasi?" tanya Tribun Medan. Ia menjawab ketika beberapa petugas turun ke bagian bawah, hanya melihat dari atas. Dia tidak berani mendekat karena khawatir suasana riuh enggak terkendali.

"Jujur saja. Saya ikut merasa ketakutan, cemas karena rencana mau mudik Natal dan Tahun Baru tapi dikejutkan adanya peristiwa ini. Penumpang yang ingin pulang ke Nias juga membludak harusnya senjata tajam enggak boleh masuk ke dalam kapal," ujarnya.

Dia menuturkan, sebelum naik ke atas kapal, ada belasan petugas yang melakukan pemeriksaan, namun peristiwa penikaman masih terjadi. Seharusnya, senjata tajam maupun besi tidak dibenarkan masuk ke dalam kapal. Apalagi, sekarang ini masyarakat banyak mudik ke kampung halaman.

"Keamanan untuk penumpang mudik Natal dan Tahun Baru harusnya lebih ketat dan pelayanan bagus. Kalau ada yang bawa senjata tajam kayak pisau diambil saja. Agar, tidak ada lagi peristiwa serupa di dalam kapal," katanya.

Saat mengabari Tribun Medan, Nada suara Efen tersengal-sengal saat menelepon. Ia mencoba ceritakan kejadian penikaman di kapal tersebut. Suara riuh masih terdengar di dalam kapal. Tatkala, dia menghubungi Tribun Medan, mereka baru saja tiba di Pelabuhan Sibolga. Kapal yang mereka tumpangi enggak melanjutkan perjalanan menuju Gunung Sitoli, melainkan berbalik arah.

"Kapal berangkat pukul 10.00 malam, kejadian pembunuhan itu sekitar pukul 00.30 WIB. Kami sudah hampir ke tengah laut namun kembali ke arah Sibolga. Kapal baru bersandar, beberapa petugas kepolisian baru saja masuk ke dalam," katanya.

Alumni magister Sosiologi USU ini menambahkan, setibanya kapal di Pelabuhan Sibolga, petugas kepolisian langsung mendata penumpang. Para penumpang maupun anak buah kapal (ABK) diperiksa terkait peristiwa penikaman.

Halaman
123
Editor: Silfa Humairah
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help