Harga Mahal, Petani Kopi Lintong Justru Minum Kopi Biasa

Menjual kopi Lintong dengan Harga pergelas Rp 10.000 hingga Rp 20.000 ternyata sulit dilakukan.

Harga Mahal, Petani Kopi Lintong Justru Minum Kopi Biasa
TRIBUN MEDAN/ARJUNA BAKKARA
Pengunjung Coffee Fest Toba menikmati sensasi minum kopi di perkebunan kopi 

Laporan Wartawan Tribun Medan, Arjuna Bakkara

TRIBUN-MEDAN.Com, TARUTUNG-Sejumlah pengunjung warung kaki lima di Kabupaten Humbang Hasundutan dan Tapanuli Utara ternyata tidak meminum kopi lintong saat duduk di beberapa Warung Kopi seperti saat ditemui, Selasa (23/1/2018). Padahal, kopi Lintong Kabupaten Humbang Hasundutan telah terkenal hingga kepenjuru Dunia.

M Siregar, pemilik Waeung kopi di Desa Lintong Humbahas menyebut tidak menjual kopi Lintong disebabkan beberapa alasan. Menjual kopi Lintong dengan harga pergelas Rp 10.000 hingga Rp 20.000 ternyata sulit dilakukan.

"Terpaksa kami hanya jual kopi bubuk biasa. Warga enggan meminum kopi Linrong karena mahal,"jelasnya.

Baca: Pejabat Disdik Sumut Disebut - sebut Terlibat Sisip Peserta Didik Ilegal

Baca: Tim SAR Kesulitan Temukan Korban Tenggelam di Danau Toba

Dia mengaku enggan menkonsumsi bahkan menjual kopi Lintong tersebut, dengan alasan harga yang terlalu tinggi dibanding kopi bubuk biasa. Kopi lintong dikenal dengan nama kopi "Sigarar utang" namun kopi ini sudah mampu menembus hingga penjuru Dunia.

Sementara itu, Bernad Sihombing petani kopi di Kecamatan Lintongnihuta Humbang Hasundutan mengatakan sengaja tidak minum kopi Lintong karena dianggap sayang untuk dikonsumsi sehari-hari. Perawatan kopi didaerah tersebut harus ditangani secara rutin, kopi lintong juga disebut dengan tanaman yang manja.

"Pohon kopi yang memiliki tinggi pohon dibawah 200 cm, harus tetap bersih dari kepadatan rerumputan, namun pemupukan mengadalkan pupuk kompos lokal,"ujarnya.

katanya, setiap minggunya petani dapat memanen buah kopi setelah berusia 12 bulan. untuk kebutuhan setiap hari warga menanam kopi di sekitar pekarangan rumah.

Kopi tersebut tidak memiliki pokok yang besar juga tidak tinggi, ketinggian pokok kopi lintong dibawah 2 meter sehingga tidak mengganggu daerah permukiman. Hanya dalam kurun waktu 1 tahun kopi tersebut sudah mmberikan hasil bagi petani itulah sebabnya kopi tersebut dinamai dengan Kopi Sigarar utang (
kopi pelunas hutang), sebab pasca panenya yang cukup cepat.

"Kami tidak pernah menkonsumsi bahkan menjual kopi lintong, sebab mahal Rp 10.000 hingga Rp20.000 ribu pergelasnya, sementara kopi lainya hanya Rp 3000 per gelas.

Lebih lanjut ia mengatakan, kopi asal kampungnya itu diracik disalah satu pabrik dan kerap menjadi oleh-oleh buat saudara yang tinggal diluar kota, namun tidak pernah mengkonsumsi kopi tersebut, ujarnya lagi.

Jakkon Marbun, Kabag Humas Pemkab Humbang Hasundutan, menuturkan telah berupaya mempromosikan kopi produksi pertanian Humbang Hasundutan. Dsebutnya, selain Promosi lewat Pameran para penulis Manca negara juga telah merilis keberadaan kopi didaerah itu.(Cr1/Tribunmedan.Com)

Penulis: Arjuna Bakkara
Editor: Salomo Tarigan
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved