Home »

Karo

Takut Diterjang Lahar Dingin, Warga Kabupaten Karo Kesulitan Cari Air Bersih

Ani Beru Sembiring (37) mengatakan, tidak gampang hidup di kawasan zona merah lantaran enggak tenang melakukan aktivitas sehari-hari.

Takut Diterjang Lahar Dingin, Warga Kabupaten Karo Kesulitan Cari Air Bersih
TRIBUN MEDAN/Jefri Susetio
Kondisi Desa Selandi Lama diguyur hujan debu vulkanik. 

Laporan Wartawan Tribun Medan, Jefri Susetio

TRIBUN-MEDAN.COM, KARO - Warga Selandi Lama, Kecamatan Payung, Kabupaten Karo, Sumut terpaksa mandi serta mengambil air bersih di aliran lahar dingin.

Apalagi, sumber air bersih hanya ada di sungai belakang desa.

Ani Beru Sembiring (37) mengatakan, tidak gampang hidup di kawasan zona merah lantaran enggak tenang melakukan aktivitas sehari-hari.

Apalagi, desa ini diapit oleh aliran lahar dingin yang semakin lebar.

"Mau mandi pun rasanya takut sekali. Kami mandi di sungai aliran lahar dingin dan sungai itu semakin lebar. Tinggi tebing yang harus dilalui mencapai lima meter. Belum lagi kalau baru banjir kayu besar hanyut ke sini," ujarnya kepada Tribun-Medan.com, di Desa Selandi Lama, Kecamatan Payung, Selasa (20/2/2018).

Baca: Pascaerupsi Hebat, Brimob Akan Bangun Irigasi di Desa Yang Terdampak Debu Sinabung

Ia menyatakan, kamar mandi umum yang digunakan warga sudah hanyut diterjang lahar dingin. Sehingga, warga mandi di sungai.

Bila hujan deras tidak ada warga yang berani mendekat sungai.

"Mandi pun tidak tenang bila gelap (mendung) di gunung bisa turun lahar dingin. Kemudian nyuci dan air minum pun di situ. Lemas rasanya turun naik ke atas setengah mati rasanya," katanya.

Dia menyampaikan, Pemerintah Kabupaten Karo tidak memberikan perhatian. Bahkan, warga tidak diajurkan untuk relokasi. Padahal, warga tak betah dan pengin keluar dari kampung.

Baca: Suasana Mencekam, Begini Kisah Warga Meraba Kegelapan saat Gunung Sinabung Erupsi

"Kalau kami di relokasi pun mau. Mau sekali direlokasi tak tidak nyaman lagi tinggal di sini. Bercocok tanam pun tak bisa. anak sekolah pun banyak pulang kampung. Obat obatan tidak masuk, seperti obat batuk dan tetes mata. Dari dulu pun tak ada obat obatan yang masuk. Padahal mata kami sakit karena iritasi," ungkapnya.

Penulis: Jefri Susetio
Editor: Arifin Al Alamudi
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help