TribunMedan/

Gabungan Serikat Perkebunan Tolak Penggarapan

Ribuan massa dari gabungan serikat perkebunan (SPBUN) menggelar aksi damai menolak penyerobotan tanah PTPN IV.

Gabungan Serikat Perkebunan Tolak Penggarapan
Tribun Medan/Dedy
Aliansi Serikat Perkebunan (SPBUN) PTPN IV menggelar aksi menolak pembangunan rumah dan pemusnahan pohon sawit di lahan yang dklalim milik negara (PTPN IV) di Dolok Ilir, Rabu (21/2/2018) 

TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR - Ribuan massa dari gabungan serikat perkebunan (SPBUN) menggelar aksi damai menolak penyerobotan tanah PTPN IV. Massa berjalan ke areal tanah negara yang dibangun rumah-rumah semi permanen di atas tanah negara, rabu (21/2).

Masaa dipimpin langsung Ketua Umum SPBUN PTPN IV, Wis Pramono Budiman. Mereka mendatangi areal yang dibangun rumah-rumah agar penghuninya meninggalkan lahan tersebut. Mereka juga mengutuk perbuatan mematikan pohon-pohon sawit dengan cara meracun dan membor batangnya sehingga pohon mati dan buahnya rusak. 

"Kita semua harus mengikuti hukum yang berlaku. Kalau terus begini alam jadi rusak. Kalau pohon dibunuh begitu bagaimana karyawan melangsungkan hidup. Apalagi ini menyangkut kelangsungan kelestarian alam. Apalagi setiap mau panen diancam mereka. Karena ini mau dihancurkan mereka. Kita minta aparat kepolisian bisa segera menyelesaikan. Kami ingin barang-barang material membangun rumah seperti kayu dan batu segera diangkat," kata Wis Pramono. 

Wis Pramono juga meminta kepada para penghuni rumah agar bersama-sama mengikuti peraturan yang berlaku. Kepada karyawan SPBUN juga diminta jangan bertindak anarkis sesama masyarakat. 

Baca: Joni Siregar Pertanyakan Ketidakhadiran Kepala BPN dan PTPN II 

"Sebagai karyawan yang baik mari sama-ama saling menjaga dan jangan bertindak anarkis. Kita minta mereka juga segera merespon aksi kita demi ikuti peraturan berlaku," katanya.

Warga penghuni rumah semi permanen di lahan yang diklaim milik PTPN IV, Margiono mengatakan bahwa ia menempati rumah sesuai dengan hak ulayat dari nenek moyang mereka. Katanya, sejak tahun 1954 neneknya telah berdomisili di lokasi dimaksud.

"Kami sudah lama di sini. Ini warisan nenek moyang kami yang haris kami perjuangkan. Kami bukan penggarap, tapi pihak perkebunan yang menggarap tanah kami,” katanya.(*)

Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help