Nikson Nababan Mengaku Pecinta Binatang

Beberapa jenis hewan yang tergolong langka dan hampir punah bergelantungan di Rumah Dinas Bupati Taput

Nikson Nababan Mengaku Pecinta Binatang
TRIBUN MEDAN/ARJUNA BAKKARA
Bupati Taput, Nikson Nababan saat mengikuti Sosialisasi Kamtibmas berkaitan dengan Pilkada Taput 2018 di Gedung Sopo Partukkoan Jalan Sisingamangaraja Tarutung, Kamis (18/1/2018). 

TRIBUN-MEDAN.com, TARUTUNG - Beberapa jenis hewan yang tergolong langka dan hampir punah bergelantungan di Rumah Dinas Bupati Taput, Rabu (28/2). Beberapa fauna tersebut yakni, elang hitam, kemudian kukang dan siamang. Siamang yang merupakan salah satu hewan dari jenis primata yang memiliki nama latin Symphalangus syndactylus ini hanya bisa meloncat dari pohon ke atap rumah dinas, lalu sebaliknya. Seharusnya hewan ini hidup di alam bebas, atau setidaknya di penangkaran.

Primata dengan ciri tak berekor, berbulu hitam dan berlengan panjang ini merupakan merupakan hewan dilindungi sesuai Daftar PP nomor tahun 1999. Tak hanya itu, binatang lainnya yang berada di rumah dinas seperti belang hitam dan kukang itu juga termasuk dalam daftar hewan yang dilindungi.

Bupati Taput, Nikson Nababan saat disinggung soal keberadaan hewan-hewan langka tersebut hanya mengatakan dirinya pecinta binatang. Namun, dirinya tidak menjelaskan detail soal berapa lama hewannya ia pelihara. "Saya pecinta binatang,"ujarnya.

Baca: KPU Masih Menunggu LHKPN Nikson Nababan

Soal  apakah dirinya pecinta binatang atau kolektor hewan, Nikson tak menjelaskannya. Termasuk ketika ditanya apakah hewan-hewan itu merupakan "warisan" dari pimpinan terdahulu, bahkan terkait ijin kepemilikan belum dijawabnya.

Pada umumnya, siamang tangkas dan lihai bergerak di atas pohon. Namun, satu dari dua ekor siamang yang ada di rumah rumah dinas tersebut sudah mati terjatuh dari atap rumah ke aspal di halaman rumah dinas beberapa waktu lalu.

"Iya, dulu ini sepasang. Tapi beberapa waktu lalu, mati karena terjatuh ke aspal," ujar seorang perempuan yang tak mau menyebut identitasnya.

Petugas Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Sumut Alfianto Siregar mengatakan, reproduksi siamang cukup lama. Tentu katanya, mengingat kemampuan reproduksi siamang yang terbatas ini, matinya satu dari dua siamang itu menjadi faktor yang mendukung kepunahan akan siamang.

Baca: Jelang Pilkada, Bupati Taput Nikson Nababan Minta ASN dan Kepala Desa Tidak Berkampanye

Dikatakannya, semua pihak seharusnya ikut serta dalam melestarikan hewan ini. Karenanya, kalau memang betul itu satwa dilindungi, maka untuk memeliharanya harus ada izin. Misalnya izin lembaga konservasi.

Terkait hewan-hewan langka di Rumah Dinas itu, katanya tindakan BKSDA terlebih dahulu akan melakukan pengecekan. Berikutnya akan diturunkan  tim quick response soal masalah tersebut. "Nanti akan diteruskan ke BKSDA Bidang Siantar. Sekarang kita punya timquick responce untuk pelaporan masalah. Dalam hal pemeliharaan satwa ada aturannya, terkait  informasi ini akan kami teruskan ke bidang wilayah dua dan seksi empat Tarutung untuk menindaklanjuti laporan ini," katanya. (*)

Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved