Aktivis Antikorupsi Dianiaya di Hadapan Anak dan Istri, Adik Gusdur Angkat Bicara

"tiga penyerang tak dikenal menyiksa saya di depan istri dan anak-anak saya di rumah saya, " ujar Rudi Mangatas

Aktivis Antikorupsi Dianiaya di Hadapan Anak dan Istri, Adik Gusdur Angkat Bicara
TRIBUN-MEDAN/Arjuna Bakkara
Tokoh NU, KH Salahudin Wahid atau yang akrab disapa Gus Solah ketika berbincang dengan Sahat Gurning Presidium FPT di Desa Sosor Ladang, Kecamatan Parmaksian, Kabupaten Toba Samosir merupakan satu dari beberapa daerah yang dikunjunginya, Rabu 1 November 2017 lalu. 

Laporan Wartawan Tribun Medan, Arjuna Bakkara
 

TRIBUN-MEDAN.Com, TOBASA-Beberapa waktu lalu, Rudi Mangatas Napitupulu (41), seorang aktivis anti korupsi di Kabupaten Tobasa dianiaya preman berinisial BN, namun hingga Minggu, (11/3/2018) pelaku belum ditangkap Polisi. Padahal Rudi telah membuat laporan pengaduan ke Mako Polres Tobasa pada Kamis 7 Maret usai dianiaya sekitar pukul 00.00 WIB lalu bersama kuasa hukumnya, Boy Raja Marpaung.

Beberapa hari sebelumnya, Rudi juga telah didatangi sejumlah petinggi di Tobasa. Dia diminta agar tidak melakukan aksi unjuk rasa pada Jumat 9 Maret 2018 yang mendorong aparat penegak hukum menyelesaikan penyelidikannya terhadap kasus korupsi di kabupaten tersebut di depan Kantor Kejari Balige.

"Dari kemarin sudah datang utusan-utusan yang menjadi perantara meminta agar unjukrasa dibatalkan. Saya tidak tahu siapa yang memerintahkan mereka untuk meminta saya menurunkan reli tersebut. Faktanya adalah, hanya satu hari setelah saya menolak permintaan kedua orang tersebut, tiga penyerang tak dikenal menyiksa saya di depan istri dan anak-anak saya di rumah saya, "kata Mangatas,"sebutnya saat di Tobasa, Minggu (11/3/2018).

Selain itu, beberapa pihak yang me-lobby agar aksi dihentikan termasuk Camat Parmaksian, Paimin Butarbutar pada Rabu, 7 Maret 2018. Kepada Tribun, Rudi memberitahu bahwa ada upaya pihak-pihak tertentu yang ingin mencoba menghentikan aksi damai mereka.

Ketika dikonfirmasi, Camat Parmaksian Paimin Butarbutar membenarkan dirinya menemui Rudi Napitupulu di kediamannya di Desa Tangga Batu I. Paimin beralasan agar ketika ulang tahun Tobasa yang ke-19 pada 9 Maret 2018 nanti tidak terganggu, padahal aksi dilakukan di Balige bukan di Kecamatan Parmaksian.

Dia membantah meminta FPT untuk membatalkan aksi anti korupsi yang berlangsung pada 9 Maret kemarin. Namun, katanya agar aksi ditunda tanggal pelaksanaanya.

Ditanya wewenangnya meminta menunda aksi, tidak banyak dijawabnya. Katanya dia hanya berinisiatif mengharapkan pembatalan. Padahal siapa saja yang ingin menyatakan pendapat di muka umum dijamin serta dilindungi UUD 1945.

Sehari kemudian, insiden penganiayaan pun terjadi. Pada pergantian hari tepatnya Kamis pukul 00.00 WIB Dini Hari, Rudi dipukuli di rumahnya. Hujatan dan pukulan dia terima bertubi-tubi di depan anak dan istri.

Baca: Bahayanya Jika Bayi Tidur dengan Posisi Miring, ini Penjelasannya

Halaman
123
Penulis: Arjuna Bakkara
Editor: Salomo Tarigan
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved