Di Tengah Kepungan Pestisida, Begini Cara Petani Parmalim Sulap Semak Jadi Kompos

Kelompok Tani Organik Parmalim yang secara mandiri menyulap tumbuhan semak hingga fermentasi menjadi kompos

Di Tengah Kepungan Pestisida, Begini Cara Petani Parmalim Sulap Semak Jadi Kompos
TRIBUN MEDAN/ARJUNA BAKKARA
Kelompok tani organik Parmalim menaruh makanan adat "itak gurgur" sebagai penghirmatan kepada si Empunya Alam pada pembukaan pembuatan pupuk organik dinDesa Sirait Uruk, Tobasa. 

Laporan Wartawan Tribun Medan, Arjuna Bakkara

TRIBUN-MEDAN.Com, TOBASA-Menggunakan peralatan seadanya, sekumpulan orang bergerak mengumpulkan bahan baku pupuk organik di sejumlah titik, seperti terpantau di Jalan Lintas Sumatera, Toba Samosir, Minggu (18/3/2018).

Mereka merupakan Kelompok Tani Organik Parmalim yang secara mandiri atau swadaya menyulap tumbuhan semak hingga fermentasi menjadi kompos di Kabupatennya.

Di tengah 'kepungan' pestisida yang cukup merajalela, dari jaman leluhur kelompok ini setia menjaga keselarasan dengan alam. Bukan saja memperjuangkan hidup dan kehidupan petani, namun melestarikan alam dalam membangun pertanian.

Baca: Penjualan Mobil Bekas Merosot, Lagi-lagi Uang Muka Masalahnya

Baca: Luar Biasa! Mohamed Salah Berpeluang Pecahkan Rekor, Lampaui Torehan Fernando Torres

Gerakan itu diprakarsai oleh Erwin Landy, seorang ahli pertanian yang mendedikasikan diri di pelosok-pelosok Tanag Batak. Untuk Wilayah Tobasa, bersama Ihutan (Kepala kumpulan) Parmalim, Raja Monang Naipospos mereka mencoba membuka mata petani-petani kecil yang dimulai pada kumpulan Parmalim.

Tepatnya di Desa Sirait Uruk, Tobasa mereka mendirikan bank pupuk. Bahan baku, seperti jerami, dedak, rumput, kotoran lembu, gedebog pisang disulap menjadi pupuk. 

 
Semuanya dilumat hingga membusuk. Hingga saat ini, bahan yang terkumpul sebanyak 30 ton pupuk organik. Pada proses pembuatan, produk yang dihasilkan tak hanya pupuk semata. Hasil fermentasi yang diproduksi, bahkan dijadikan sebagai pengusir hama tanpa membunuh.

"Selain menambah kesuburan tanaman, kalau ada hama, seperti burung yang mau memakan padi maka akan pergi begitu saja. Begitu pun hama lainnya, tak perlu berdosa memusnahkannya dengan racun, tapi hama-hama akan pergi begitu saja dan tanaman terjaga,"ujar Erwin yang akrab disapa Bumi Samosir ini.

Erwin, Pria berdarah jawa ini mengatakan 'Bertani Organik Menggunakan Pupuk Alam' memang seperti terdengar kuno. Bahkan, teknologinya sederhana, namun mempunyai dampak yang sangat luar biasa.

Di sisi lain, dia menyesalkan pengadaan rumah kompos milik Pemkab di Lumban julu justru tak terpakai hingga rusak. Karenanya, dia berharap mesin-mesin itu difungsikan olehbinstansi terkait untuk dapat digunakan petani. 

Sebagai motivator pada kelompok tersebut, Erwin menekankan tetap setia dan kembali ke organik. Apalagi, bahan baku tersedia. 

"Kita harus kembali ke organik, selain pelestarian lingkungan. Duluan orang bertani, sebelum pabrik pupuk ada,"sebutnya.(Cr1/ Tribunmedan.Com)

Penulis: Arjuna Bakkara
Editor: Salomo Tarigan
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help