Travel

Pengelola Poda Cafe Ingin Hilangkan Stigma Kopi Arabica Mesiu Senjata

Selain harganya murah, kopi yang sering dicampur dengan jagung ini terasa lebih manis.

Pengelola Poda Cafe Ingin Hilangkan Stigma Kopi Arabica Mesiu Senjata
TRIBUN MEDAN/Tommy Simatupang
Suasana Poda Cafe di Jalan Sisingamangaraja Sidikalang, Kabupaten Dairi, Selasa (27/3/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Tommy Simatupang

TRIBUN-MEDAN.com, SIDIKALANG - Kopi jenis Robusta masih menjadi favorit bagi warga Indonsia. Bahkan, Kota Sidikalang penghasil kopi terbaik, masyarakat masih merasa robusta sesuai dengan lidah. Selain harganya murah, kopi yang sering dicampur dengan jagung ini terasa lebih manis.

Seorang pemilik kedai kopi Arabica "Poda Cafe", Samuel Sihombing menyayangkan masyarakat penghasil kopi tidak tertarik dengan kopi arabica yang mendapatkan peringkat terbaik di internasional.

"Sebenarnya masyarakat masih terdoktrin bahwa kopi arabica itu sebagai mesiu senjata. Pemikiran ini hadir sejak masa perang atau Belanda datang. Saya meyakini masyarakat bahwa Arabica bukan mesiu senjata,"ungkap Samuel di kedai kopinya, Jalan Sisingamangaraja, Selasa (27/3/2018).

Samuel memastikan tetap berada pada jalur jenis Arabica. Menurutnya, kopi arabica Sidikalang harus dipertahankan kemurniannya. Meskipun, rasa kopi Arabica jauh berbeda dari kopi yang diminum masyarakat.

Kita punya lokasi yang bagus. Kita punya lokasi yang berada 1.700 di atas permukaan laut. Itu sangat bagus untuk kopi. Orang luar banyak apresiasi terhadap kopi kita,"ujarnya.

Baca: Kondisi Cedera, Gelandang PSMS Antoni Berharap Dimainkan Lawan Mantan Tim Bhayangkara FC

Baca: Ijeck Minta Dukungan Rizieq Shihab Saat Bertemu di Tanah Suci? Ini Jawaban Tim Eramas

Sebagai bentuk mempertahankan tumbuhan kopi Arabica, Samuel juga melakukan pendampingan terhadap petani-petani. Ia juga berencana akan mendirikan sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk perlindungan Kopi Sidikalang.

Suasana Poda Cafe di Jalan Sisingamangaraja Sidikalang, Kabupaten Dairi, Selasa (27/3/2018).
Suasana Poda Cafe di Jalan Sisingamangaraja Sidikalang, Kabupaten Dairi, Selasa (27/3/2018). (TRIBUN MEDAN/Tommy Simatupang)

"Saya ingin masyarakat Sidikalang sebagai penghasil kopi memiliki selera yang tinggi dalam merasakan kopi,"ungkapnya.

Ia mengungkapkan untuk kopi Arabica dengan kondisi yang masih basah seharga Rp 140 ribu per kilogram. Sedangkan setelah diroasting Rp 275 ribu per kilogram.

Selain itu, ia menilai peran pemerintah sangat kurang dalam mempertahankan Kopi Arabica Sidikalang yang terkenal hingga luar negeri.(tmy/tribun-medan.com).

Penulis: Tommy Simatupang
Editor: Salomo Tarigan
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved