Suap DPRD Sumut

Sutrisno Menantang Konfrontasi kepada Orang-orang Yang Menyebut Dirinya Turut Menerima Suap

Karena kebetulan dalam dua aktifitas itu, Sutrisno mengaku sebagai penggagas interplasi dan ikut didalam Pansus PAD 2016.

Laporan Wartawan Tribun Medan / M Andimaz Kahfi

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Anggota Komisi D DPRD Sumut dari Fraksi PDI Perjuangan, Sutrisno Pangaribuan hadir memenuhi panggilan KPK menjadi saksi dalam kasus 38 anggota dan mantan anggota DPRD Sumut yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus suap mantan Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho, di Mako Brimob Polda Sumut, Senin (16/4/2018).

Baca: Diperiksa Penyidik KPK, Istri Gubernur Keluar Lewat Pintu Belakang

Baca: Setelah Diperiksa KPK, Ristiawati Mengaku Menerima Uang Ketok dan Berniat Mengembalikan

Sutrisno mengatakan dirinya hadir sebagai saksi atas 38 tersangka khususnya untuk 10 orang yang masih aktif menjadi anggota DPRD Sumut. Dalam surat panggilan tertera, bahwa ia dipanggil sebagai saksi.

Terkait lamanya proses pemeriksaan, Sutrisno menuturkan bahwa dalam periode sekarang ada beberapa hal yang menjadi perhatian KPK. Seperti soal interplasi jilid III tentang tata kelola pemerintahan pada April 2015 silam dan Pansus Pendapatan Asli Daerah (PAD) tahun 2016. Karena kebetulan dalam dua aktifitas itu, Sutrisno mengaku sebagai penggagas interplasi dan ikut didalam Pansus PAD.

"KPK menyarankan sepanjang kalau saya menerima uang yang bukan hak, KPK minta segera dikembalikan. Khusus menyangkut Pansus PAD dan dibeberapa kesempatan sebelumnya yang kita menerima bukan hak, kita sudah kembalikan kepada yang memberikan," kata Sutrisno, Senin (16/4/2018).

"Waktu itu ketika Pansus PAD di Prapat bulan Mei 2016, saat selesai acara kita pulang dan tidak tahu menahu apa-apa tiba-tiba di kantor ada staf yang memberikan uang transport sebesar Rp 10 juta. Namun karena bukan hak kita langsung saya kembalikan dua hari kemudian kepada staf komisi dan staf pansus, Magdalena Pasaribu," tambahnya.

Sutrisno menambahkan dalam interpelasi jilid III tahun 2016 silam, dirinya merupakan orang yang menggagas interpelasi dan ketika interpelasi gagal lalu saya dianggap menerima. Padahal sebelumnya sudah saya nyatakan tidak pernah menerima apapun.

Baca: Novita Sari Tergesa-gesa Masuki Mako Brimob untuk Diperiksa KPK

Baca: Tribun Medan Gelar Polling Pilgub Sumut Edy-Ijeck Vs Djarot-Sihar, Dukung Jagoan Anda!

Lebih lanjut, Sutrisno mengungkap bahwa ada oknum yang menjadi distributor atas nama Indra Alamsyah dari Fraksi Partai Golkar yang ketika itu masih menjadi anggota DPRD Sumut. Distributor itu menyebutkan bahwa ada uang yang diserahkan atas nama saya, yang diserahkan kepada Muhammad Affan yang berasal dari Partai PDI P, sebesar Rp 15 juta rupiah. Hal itulah yang coba untuk diklarifikasi Sutrisno sewaktu diperiksa penyidik KPK.

"Saya tidak mungkin mengakui apa yang tidak saya perbuat. Tapi sepanjang ada bukti seperti penerimaan ke saya, yang tidak melalui saya tapi masuk ke staf, maka akan saya tanyakan pada staf saya. Yang jelas saya berani dihadapkan pada orang yang menyebut nama saya sebagai orang yang menerima dana," pungkas Sutrisno. (cr9/tribun-medan.com)

Penulis: M.Andimaz Kahfi
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help